Monday, May 19, 2008

Jodoh

Di cermin didapatinya sebentuk wajah lonjong yang tirus, berwarna sawo matang, dengan hidung yang tidak terlalu mancung, bibir yang tidak indah, dan pipi yang dipenuhi jerawat di sana sini. Dicobanya kemudian untuk tersenyum semanis yang dapat ia sunggingkan, terlihat gigi geligi yang tidak rata di sana sini dan sepertinya bukan senyum yang terlihat tapi mungkin lebih kepada seringai. Kemudian terdengar desahan tak puas dengan apa yang dilihatnya di cermin. It’s me…! What an ugly face..

Usianya sudah menginjak kepala tiga, sebuah usia yang tidak bisa dibilang muda untuk seharusnya membentuk sebuah keluarga. Semua teman kuliahnya sekarang sudah berkeluarga bahkan ada yang putranya sudah empat, jumlah bilangan buntut yang tidak sedikit untuk seorang ibu yang mempunyai usia sama seperti dirinya Tapi rasanya semua tiada guna, sudah beberapa kali dia berusaha menjalin persahabatan dengan banyak pria dengan harapan bahwa kelak ada salah satu dari mereka menjadi belahan jiwa.

Sungguh suatu harapan yang tidak begitu muluk bila menginginkan seorang lelaki yang baik mau menerima dirinya, mm… untuk masalah ketaatan terhadap agama rasanya itu bisa nomor dua. Entahlah sepertinya lama kelamaan dia berpikir apabila keadaan seperti ini terus rasanya dia bersedia menjadikan siapapun sebagai suami tanpa perlu membuat kualifikasi.

Ah.. tapi tentu ide gila itu akan banyak ditentang oleh kaum kerabatnya. Hehe..kok jadi obral gini, dia tersenyum dalam hati. Mmm.. kalau untuk masalah pergaulan rasanya dia bukan tipe perempuan yang introvert, pergaulannya cukup luas terutama di dunia maya. Teman lelakinya pun banyak, begitupun di kantor tempat ia bekerja tapi yah.. hanya sebatas teman..Apabila dia mulai menjurus ke arah hubungan yang lebih dekat kepada salah satu teman laki-lakinya dari dunia maya mm.. bisalah dibilang agak agresif dikit tapi sepertinya itu juga tidak tabu mengingat Khadijah sendiri melamar Rasulullah sebagai suami, sudah dapat dipastikan setelah melakukan copy darat teman lelaki tersebut akan menyingkir secara perlahan, tanpa dia tau pasti apa penyebabnya. Apakah karena aku tak cantik ?? Atau terlalu agresif ??

Ah..rasanya tidak juga. Bukankah selalu pinta itu kuurai di setiap sholat malam dan sholat wajibku, agar mimpi ini menjadi nyata, dan kemudian Allah hadirkan seorang laki – laki baik dalam hidupku. Ohh… tiba – tiba perasaan rendah diri menghinggapinya, namun segera ditepisnya. Toh jelek juga bukan akhir segalanya, masih banyak kok yang lebih jelek dan lebih kurang sempurna.

Mmm... tapi Pak Marno tukang pijat langganan Bapak juga walau buta tetap bisa mendapatkan jodoh bahkan mendapat isteri yang normal dan tentu lebih secara fisik daripada Beliau sendiri. Ahh... ini cuma Allah yang punya rahasia. Jangan berburuk sangka kepada Allah Anti... nuraninya mengingatkan.

“ Anti…!”

Tok..tok.. tok.. Suara Bapak yang cukup berat membuyarkan seluruh renungannya.Dengan agak malas dibukanya daun pintu kamar yang menimbulkan suara berderit karena kurang minyak.

“ Ada apa, Pak ?”

Kepalanya menyembul separoh dari balik pintu menjawab panggilan laki –laki tua yang sangat dicintainya. Hmm.. sepertinya hanya Bapak satu-satunya lelaki di dunia ini yang mencintaiku dengan tulus…yee…namanya juga buah hati hihi..Mmm.. Ibu andai saja ibu masih berada di tengah kami, betapa kegalauan ini akan dapat mencari ruangnya di belantara kalbu Ibu yang begitu luasnya.

“ Kamu kenapa kok kusut begitu ?”

Bapak menepuk kepala Anti dengan koran yang sedang dipegangnya, sambil tersenyum menggoda anak bungsunya. Setelah isterinya mangkat, di rumah itu hanya ada dia dan si bungsu ditemani salah seorang keponakannya. Dua orang anaknya terpisah jauh dari mereka, mungkin hanya satu kali dalam setahun berjumpa. Anak yang pertama laki –laki sudah berkeluarga dan menjadi PNS di salah satu instansi pemerintah di pulau Kalimantan, sedangkan anak laki-laki yang kedua mencari penghidupan di kampung halaman isterinya di Sulawesi dengan membuka toko klontong.

Ahh... inilah hidup, akan ada masanya dimana semua anaknya akan pergi meninggalkannya, ataupun sebaliknya. Ah..istriku, seandainya kau masih ada tentulah sepi ini ada obatnya. Sekarang mungkin satu-satunya perempuan yang mencintainya sepenuh hati di sisa hidupnya adalah si bungsu saat ini , bisiknya lirih dalam hati.

“ Hayooo... !! Kok Bapak yang bengong !” Anti mengagetkan Sang Bapak yang seperti setengah melamun.

“ Ehhh.. iyaa.. kok Bapak jadi lupa ya… itu ada temanmu laki – laki di depan, katanya mau ketemu. Libur gini kan harusnya kamu jalan – jalan aja.. jangan malah bengong di kamar !”

Bapak sedikit menasihati sambil berlalu meninggalkan Anti yang masih bertanya – tanya gerangan siapa laki-laki itu.

“ Eh, Pak… tunggu dulu ! Nama laki-lakinya siapa ? “Anti menghentikan langkah kaki Bapaknya yang sudah agak menjauh.

“ Waduh.. tadi siapa yaa… Andri.. Andre.. apa Tono, Bapak lupa...! Coba nanti tanya lagi ke orangnya .

”Bapak dengan santai meninggalkan Anti yang bengong.. mm.. kayanya nama Andri dan Andre memang agak mirip jadi mungkin bisa lupa, tapi kok pake juga nama Tono… Haa…ini baru ajaib kok bisa jauh banget lupanya. Ah.. dasar si Bapak ! Anti tersenyum dalam hati dan kemudian bergegas mengganti pakaian serta memakai jilbab kaos renda warna hijau berukuran M untuk menemui tamunya. Nah… siapakah diaa ?

“ Hai..!”

Anti menyapa seorang laki-laki yang tengah memandang bunga-bunga di teras yang terawat rapi peninggalan almarhumah ibu. Dengan segera Anti mendapati seraut wajah yang asing, tapi seperti pernah melihatnya.. tapi dimana ya ??

“ Hai...! “

Suara itu menyahut dengan sedikit kaget diikuti senyum, kemudian berdiri sembari mengayunkan tanganya untuk bersalaman dengan Anti. Dengan agak ragu Anti menyentuh sedikit tangan itu. Walaupun tidak alim – alim banget, tapi rasanya kalau untuk menyentuh laki-laki yang bukan mahrom rasanya tetap tidak nyaman . Untuk hal – hal seperti ini rasanya Anti cukup terjaga. Alhamdulillah..

“ O ya..., kenalkan, saya Tono Andrian , temen chatting Anti di Medan kebetulan main ke tempat Saudara di sini !”

Tanpa menunggu Anti menanyakan, laki – laki berperawakan sedang, berperilaku sopan, dan bertampang sedang itu langsung memperkenalkan diri. Eeh... kayanya Bapak bener deh.. di nama itu ada unsur Andri dan Tono nya , kirain tadi Bapak pikun. Anti bergumam geli dalam hati. Ingatan Anti melayang beberapa waktu lalu saat berkenalan di Internet, dan sepertinya saat itu dia tidak begitu memperhatikan , pun sampai setelah laki-laki itu mengirimkan foto. Ooh.. pantesan sepertinya aku kenal. Bisik Anti lagi dalam hati.Setelah pertemuan di siang itu, cerita pun berlanjut hingga sampai ke hari – hari Anti. Mm.. mungkin ini suatu pertanda bahwa Sang Arjuna akan datang, toh setelah perkenalan itu tak ada tanda-tanda bahwa Tono Andrian menyingkir darinya, bahkan sepertinya dia begitu gencar mendekati Anti lewat email-email yang dikirimnya serta pertemuan yang sering di layar komputer, dan SMS. Sungguh.. sepertinya hari-hari terasa indah dilaluinya.

Apakah ini jawaban Allah atas segala doa yang dipanjatkannya. Kadang Anti merasa malu juga bila niat berdekat-dekatan dengan Allah siang dan malam yang dilaluinya hanya untuk meminta jodoh, bukan untuk menjalin cinta yang lebih hakiki dengan Nya. Ah.. tapi kan kita disuruh berdoa dan meminta kepada Allah, bagitu lah jawaban pembenaran darinya. Hingga semakin lama, frekuensi kedekatan dengan Yang Maha Penyayang itu mulai menurun, yang biasanya sholat malam, sekarang boro – boro...bisa sholat wajib pun Alhamdulillah..karena semua waktunya habis di depan komputer dan sibuk dengan dunia maya nya, sholat itupun tak pernah tepat waktu. Virus merah jambu yang dahsyat tengah melandanya. Bapak yang melihat perubahan putri bungsunya sangat bahagia, karena apapun yang membuat Anti bahagia, itu juga yang akan dirasakan Bapak.

“Jadi….kesimpulan dari kajian kita kali ini saya ambil dengan menyitir Surat An-Nuur ayat 26, bahwasanaya laki – laki yang buruk akhlaknya itu diperuntukkan untuk perempuan yang buruk akhlaknya, demikian pula dengan laki – laki yang baik akhlaknya diperuntukkan untuk perempuan yang baik akhlaqnya . Dan begitu pun sebaliknya. Janji Allah tersebut benar adanya, makanya saya mengingatkan saudari – saudariku yang belum menikah dan berniat untuk menikah tolong lebih teliti lagi mencari calon suami. Jangan karena sekedar baik kepada kita saja kita memilihnya, karena baik dalam pandangan kita belum tentu baik dalam pandangan Allah demikian pula sebaliknya. Itu berarti yang paling penting dalam memilih pendamping hidup adalah yang paling baik agamanya, karena hal tersebut yang akan membuat kita bahagia lahir dan batin…”Penjelasan ustadzah kajian Jumat siang itu seperti menyentak Anti untuk berpikir lebih dalam mengenai kriterianya mencari pendamping hidup.

“ Hey.. neng…! Udah kelar kajiannya…Mau makan dulu apa sholat dulu ? “

Yuni, teman satu kantornya menyentuh pundak Anti yang masih asyik menekuri karpet alas duduk mereka.

“ Eee.. Iya, mm.. sholat aja dulu, Yuk..! Belum laper niih..!”

Anti menjawab sambil bergegas menggamit lengan Yuni menuju masjid instansi tempat mereka bekerja setelah kaum laki-laki selesai sholat Jumat. Lama Anti merenungkan isi kajian itu setelah sholat. Yah.. nuraninya sedang gulana.

***

“ Bapak nonton apa sihh…?”

Anti mendekati Bapaknya yang tengah asyik mengarahkan pandangan di depan televisi malam itu sambil membawa camilan , kemudian menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.

“Sekelompok pemuda yang sedang mengadakan pesta shabu digrebek oleh polisi kota Medan…..”

Tiba – tiba dada Anti berdegup kencang, dan sepertinya merasa gerah dengan udara hari itu, tubuhnya menegang demi melihat wajah yang saat ini terasa begitu dekat dengan mimpi – mimpinya, sedang digiring oleh polisi bersama pemuda lain di sebuah rumah . Suara reporter berita tersebut seperti hilang di telan gemuruh di dadanya , gemuruh angkara, penyesalan, dan rasa malu yang mendalam. Seluruh persendian Anti lunglai. Inilah jawaban gulana itu. Dia masih mendengar Bapak juga menyerukan kekagetan luar biasa mengingat selama ini putrinya dekat dengan laki-laki di televisi itu.

Allah masih sayang padanya untuk mengingatkan lewat kajian siang tadi. Tiba – tiba pula terbit rasa syukurnya atas semua karunia yang diberikan Allah atas wajah ini, karena walaupun wajahnya tak cantik menurut orang lain, tapi cantik menurut Bapak ,akhlaqnya sampai detik ini masih tetap terjaga walau gara-gara virus merah jambu itu membuatnya lupa daratan untuk sementara waktu. Allah.. beri hamba kekuatan dan kemampuan untuk mencintai Mu lebih dari segala sesuatu, dan biarlah hamba mencintai Mu saja, itu sudah cukup. Bisik Anti pasrah. Masih jelas diingatannya isi SMS tadi pagi sebelum dirinya bersiap melangkahkan kaki ke tempat kerja : Will you marry me ??

Teruntuk: Saudari-saudariku yg tengah merindu..Keep istiqomah - janji Allah selalu benar

Forensik

" Aisyaaahhh……tunggu !!"

Sebuah suara menghentikan langkahku untuk sejenak menoleh ke arah sumber suara tersebut. Seorang perempuan berkerudung lebar dan memakai jas putih bergegas ke arahku sambil mendekap buku tebal dan tas besar di pundaknya, tak dihiraukannya pandangan orang-orang di lorong rumah sakit itu mendengar teriakannya yang cukup keras.

" Ais…kamu tau nggak..?"

Tanpa menunggu aku bertanya ada apa, akhwat jangkung itu sudah lebih dahulu berkata.

" Assalamu'alaikum dulu rina manis…"

Celetuk ku kalem sambil menyalami tangannya.

" Eh.. iyaa, afwaaaann…. Assalamu'alaikum Ais sayang.."

Rina, sahabatku, meralat kembali kata-katanya di awal sambil cengengesan membetulkan letak kacamata minusnya.

" Ada berita apa sih, kaya penting banget sampe salam aja lupa ."

Aku bertanya sekaligus menyindirnya dengan tampang pura-pura sebel.

" Yukk..ngomongnya di pinggir aja, tuh ada brankar lewat kalo ketabrak kan lumayan…bisa – bisa nambah pasien UGD kita"

Rina menarik tanganku ke pinggir, sambil bibirnya maju dua senti ke arah brankar yang lewat. Lorong rumah sakit pendidikan yang cukup terkenal di pulau Jawa pagi ini memang cukup ramai, karena memang sedang jam sibuk. Semua berseliweran dengan raut muka yang beraneka ragam, dari yang paling kusut sampai yang berseri – seri, mulai dari pasien dan keluarganya, dokter rumah sakit, residen, perawat, karyawan rumah sakit yang lain, sampai ko-ass seperti kami sekarang ini.

"Kamu dipanggil Dokter Mega, tadi pas aku kasih laporan hasil visum kemarin Beliau menanyakan namamu.."

Rina menjelaskan maksudnya sambil melambai ke arah seoang teman yang berlalu pada jarak yang tidak begitu jauh dari kami.

“ Ra… tunggu dong..!!”

Dengan suara agak lantang Rina memanggil sosok tersebut sambil terus melambaikan tangan. Tak urung aku menaruh jari telunjuk ke bibir megisyaratkan Rina untuk merendahkan volume suaranya. Ini akhwat kok kaya tarzan, batinku tersenyum.

"Oh.. ada apa ya Beliau manggil, mm.. kayanya laporanku bermasalah deh."

Aku menanggapi penjelasan Rina sambil mengernyitkan dahi berpikir kira-kira apa yang membuatku dipanggil.

" Makanya menghadap aja sekarang, mumpung lagi kosong acara kita, Pak Sara berhalangan hadir untuk memberi kuliah kan..?"

Rina memberi saran, sambil tak lupa tanganya membetulkan letak kacamatanya.

" Iya deh.., aku ke sana langsung aja. Kamu mau kemana sekarang ??"

Aku balik bertanya, mengingat acara kami untuk jam sepuluh ini dibatalkan.

" Biasaaaaa…. Isi bensin dulu ke kantin tuh Ira udah duluan .Dahh Aiis, Assalamu'alaikum.."

Dengan gayanya yang rada kenes Rina menjawil daguku sambil berlalu, menyusul teman yang lain ke arah kantin.

" Wa'alaikumsalam…."

Jawabku pelan, sambil melanjutkan langkah berbelok menuju ke bagian Forensik yang letaknya di belakang areal rumah sakit ini. Tadinya aku hendak menemui teman akhwat di bagian Penyakit Dalam untuk menanyakan siapa yang akan mengisi kajian untuk adik-adik S1 Kedokteran Jumat depan sekalian melepas rindu setelah lama tak bersua walaupun rumah sakit kami sama. Kenyataannya memang begitu, kami disibukkan dengan urusan masing-masing seminggu terakhir ini. Beginilah hidup jadi seorang ko-ass, penuh perjuangan sekaligus keprihatinan. Sudah rahasia umum sepertinya kalau ko-ass itu adalah strata terendah di rumah sakit ini heheh…Hush… kok jadi meratapi nasib gini. Aku tersenyum dalam hati.

Ingatanku kembali melayang beberapa hari yang lalu. Sungguh, stase atau bagian Forensik ini walaupun hanya berlangsung empat minggu aku merasa seperti empat tahun. Waktu sepertinya lambat sekali bergulir. Bagaimana tidak, selama 24 jam kami harus siap menunggu perintah, jam berapapun dipanggil ke rumah sakit kami harus datang, untuk menghadapi jasad terbujur kaku yang meninggal karena sebab beraneka ragam, dan hal seperti ini yang sama sekali membuatku merasa tidak nyaman dibanding harus berlama-lama di stase lain. Walau banyak hikmah yang bisa dipetik selama berada di stase tersebut, tapi entah mengapa aku tetap tak ingin berlama-lama di sana. Empat hari yang lalu adalah hari yang berkesan buatku, karena saat itu ada jenazah yang tewas akibat perkelahian, dan aku berani menawarkan diri untuk menjadi O2 atau operator yang bertugas melakukan pembukaan bagian dada. Sudah menjadi ketentuan umum, apabila ada jenazah yang meninggal karena perkara kriminal, biasanya pihak kepolisian meminta untuk dilakukan pemeriksaan dalam sebagai cara untuk mengetahui sebab kematiannya selain dilakukan pemeriksaan luar.

Pisau kecil tajam masih kupegang dengan tangan berkeringat dingin. Dengan pisau inilah aku akan membelah dada jenazah di hadapanku, setelah semua prosedur pemeriksaan lain dilakukan.

" Ayo Ais.. kamu bisa…!."

Sebuah suara menyentak kesadaranku yang masih termangu memandang beraneka ragam jenis pisau yang masih berada di tempatnya.

Hagni, salah saorang teman satu kelompok ku berbisik menguatkan diriku yang masih gamang dengan keadaan tersebut. Tiba-tiba terbersit penyesalan, kenapa harus aku yang menawarkan diri untuk menjadi operator nya. Ahh.. semua terlambat, dosenku yang lumayan sangar sudah berdiri di samping jenazah yang dikelilingi sekitar dua puluh orang ko-ass lain. Perlahan aku menyayat pangkal lehernya seolah-olah tak ingin jenazah pria itu terusik, terus kusayat hingga membentur tulang dadanya. Allah… berdosakah yang kulakukan ini, sungguh aku melakukannya karena tuntutan keilmuan semata. Suara-suara disekitar memberi saran teknik penyayatan, hingga seluruh dada terbuka, dan terlihat semua organ di dalam beserta bau amis organ dalam yang menyeruak menuju syaraf penghidu kami. Sebab kematiannya jelas, karena tusukan sangkur saat perkelahian mengenai jantung dan terjadi perdarahan di sana, terlihat dari genangan darah di pericardium.

Beraneka ragam bentuk kematian lain kutemui di bagian ini, mulai dari jenazah mati tenggelam, infanticid , terbakar, keracunan, hingga kecelakaan lalu lintas. Semuanya menceritakan kepedihan dan kebesaran Allah di dalamnya, saat ada jenazah wanita yang terbakar hangus seluruh tubuhnya diperkirakan bunuh diri karena tak ingin dipaksa menikah dengan laki-laki lain, akan tetapi Maha Suci Allah ternyata rahimnya utuh dengan janin berusia 16 minggu di dalamnya yang sudah meninggal juga. Ternyata wanita itu telah mengandung terlebih dahulu, Naudzubillah..

Sejak di bagian Forensik ini pula aku merasa melihat wajah-wajah kematian di setiap wajah yang kutemui di jalan, dan saat itu ada getaran yang akan menggerakan kuduk ku dan merangsang syaraf autonomku menuju ke kelenjar air mata untuk meneteskan air mata kepasrahan bahwasanya kematian itu adalah sebuah kepastian, siapa yang mampu mengelakkannya.Tapi sungguh bekal itu belum banyak rasanya untuk kutukar dengan kebahagian akhir. Ada doa di setiap ingatan yang kubawa tentang bentuk-bentuk kematian tersebut, Allah.. aku ingin kematianku dalam keadaan terhormat, dan utuh tidak berakhir di meja otopsi.

Tok..tok..tok..

"Assalamu'alaikum…"

Aku sudah berdiri di depan pintu dokter Mega salah satu dosen di bagian Forensik ini dengan perasaan bertanya-tanya.

" Wa'alaikumsalam… masuk ".

Terdengar jawaban dari balik pintu yang langsung menggerakkan tanganku meraih handle pintu dan membukanya.

" Maaf dok, dokter memanggil saya Aisyah Syahidah…"

Aku sudah berdiri di hadapan meja Beliau, sedang perempuan separuh baya dengan gelungan rapi itu, terlihat sedang sibuk dengan tumpukan kertas laporan di hadapannya.

" Oh.. Aisyah ya…silahkan duduk, ini ada yang kurang mengenai laporan visum kemarin."

Tanpa basa-basi Dokter Mega sudah memberikan banyak kritik dan masukan mengenai laporan yang kubuat, hanya karena pemeriksaan organ bagian ginjal tidak dilakukan saat pemeriksaan dalam otopsi jenazah seorang pencuri yang dihakimi massa beberapa hari yang lalu. Penyebabnya karena kami merasa sudah cukup bukti untuk menegakkan sebab kematiannya, ditambah lagi berhubung ginjal agak sulit untuk dibuka mengingat tempatnya yang tersembunyi, jadi kelompok kami memutuskan untuk tidak membukanya. Sudah cukup rasanya membuat berbagai "kerusakan" pada tubuh jenazah itu. Tapi mungkin Dokter Mega mempunyai pertimbangan lain mengingat status kami saat ini masih belajar, jadi semua pemeriksaan harus dilakukan.

Aku berjalan menuju ke kos yang tidak begitu jauh dari rumah sakit sambil membawa hasil laporan yang dikembalikan lagi dengan sukses untuk aku perbaiki sambil memperhatikan setiap wajah-wajah yang kutemui di jalan, kembali aku melihat wajah-wajah kematian di sana, membayangkan seandainya mereka berakhir di meja otopsi tentulah tidak akan ada lagi wajah yang segar tertawa atau murung menangis, yang ada hanya wajah pucat, dingin dan kaku, siap untuk dipelajari sebab- sebab kematiannya oleh mereka yang hidup, sementara akhir hidup sendiri siapa yang tahu seperti apa dan bagaimana. Allah… sudah cukup siapkah aku menghadap Mu ?

Dorr…dorr….!!

Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang cukup dekat di telingaku.

" Aaaahh……!! "

Tiba-tiba keringat dingin kurasakan menjalar ke seluruh tubuh, ada rasa nyeri yang menjalar di dada, dan cairan hangat kuraba mengalir di jas ko-ass ku, dan tiba –tiba ringan sekali rasanya tubuh ini, untuk sesaat kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.

Dengan jelas aku melihat tubuhku terbaring tanpa daya dengan darah yang masih mengucur di dada sebelah kiriku. Ramai terdengar orang berteriak mengerubungiku. Suasana panik demikian terasa. Ternyata Bank di samping rumah sakit dirampok memakai senjata api, karena panik si perampok melepaskan tembakan ke arah satpam, dan saat melintas di sana, pelurunya bukan menuju ke arah satpam melainkan bersarang ke dadaku.

Allah.. apa yang akan terjadi dengan diriku? tewaskah aku ? Kepasrahan kembali kurasakan bersamaan dengan titik-titik air mata yang kurasakan jatuh satu-satu.

Hei.. lihat brankar itu yang membawa diriku dari UGD menuju…?? Lihat mereka berbelok ke kiri menuju….Oh tidak !! Mereka membawaku ke bagian forensik. Tidaaaakk.. ya Allah !! Aku tidak pernah ingin kematianku berakhir di ruangan itu. Tolong ya Allah… Aku ingin mati dengan wajar, terhormat, tanpa harus ditelanjangi di atas meja otopsi. Aku melihat teman-teman satu kelompokku berkumpul dengan wajah kaku, sebagian dari mereka menangisi diriku.

" Sekarang kalian periksa bagian luar, setelah itu kita akan memeriksa bagian dalam untuk mengetahui sebab kematian Saudari kita."

Suara dosen kami memecah keheningan yang ada setelah dilakukan doa bersama untuk memulai otopsi ini . Dalam diam semua bekerja dengan suara berbisik, seolah tak ingin mengganggu tidur panjangku. Satu – persatu seluruh yang melekat di badanku di buka, untuk kemudian dikumpulkan setelah terlebih dahulu dicatat. Allah.. betapa malunya aku !! Aku ingin lari dari sana, tapi tak ada tenaga yang mampu menggerakkanku..seperti ada paku besar yang menancap kakiku menembus ke dalam perut bumi.

" Sekarang kita akan melakukan pemeriksaan dalam "

Oh..!! Itu suara Hagni..

Tidaaaakk !!! apa yang akan mereka lakukan padaku. Air mataku sudah tumpah ruah… aku tidak rela ya Allah….!!

" Aiisy…?? Ada apa ?? Kenapa menangis ??"

Sebuah suara lembut dan sepasang tangan memegang bahuku.

Aku mendongak mencari suara yang kukenal tersebut, apalagi dengan panggilan kesayangan Aisy. Hanya satu orang yang memanggilku demikian.

"Subhanallah… Dwi ?? !!" Aku langsung memeluknya, dan terisak di sana.

" Hei… gak boleh nangis di tengah jalan…Malu atuh.. !! Yukk.. ke pinggir dulu."

Dwi, sahabat karibku, sudah menggamit lenganku ke pinggir jalan , yang lumayan ramai . Beberapa pasang mata menatapku dengan mimik wajah yang tidak bisa diterka apa yang tengah mereka pikirkan. Aku jadi malu.

Aku mengusap air mata, sambil tertawa kecil ke arah Dwi menyadari kebodohanku. Alhamdulillah itu cuma lamunanku saja. Beginilah nasib jadi akhwat punya kepribadian sentimentil, mudah sekali terbawa perasaan. Huh.. ini akibat pengaruh cerita-cerita kriminal di televisi jadi berpikir yang tidak-tidak. Aku beristighfar dalam hati.

" Hehe.. aku cuman ngelamun kok ."

" Kok bisa ?? Sudah berkali-kali tadi aku memberi salam dan memanggilmu, tapi sepertinya kamu tidak mendengar apapun. Ada apa Aisy sayang..??"

Wajah Dwi terlihat khawatir melihat keadaanku, sambil menyodorkan tisue ke arahku.

" Gak apa-apa kok, cuman ngelamun aja.. tapi kok sampai nangis ya ?? "

Aku tersenyum sambil menyeka air mata dengan tisue sambil bertanya pada diri sendiri.

" Ngelamun kan gak boleh ukhtiy…gak baek… banyak setannya…Apalagi sambil jalan pake nunduk lagi, kalo ketabrak kendaraan gimana ??

Dwi sedikit merengut, mengingatkan kebiasaan jelekku kalau berjalan tidak melihat kiri kanan, tapi menekuri tanah yang sering jadi bahan olokan teman-teman yang lain. Mencari duit jatuh ni yee…

" Alhamdulillah kalo gak ada apa-apa..Bener nih gak mau cerita ??"

Dwi melanjutkan lagi bicaranya dengan nada pura-pura mengancam. Dia tahu pasti kalau aku punya masalah tentulah akan bercerita padanya tanpa harus diminta. Tapi untuk yang satu ini aku lebih suka diam.

" Ada apa manggil-manggil ? be te we dari mana hendak kemana ?"

Aku sudah melupakan kejadian barusan dan bertanya kepadanya dengan nada biasa.

" Tadi selesai ujian Interna aku pengen rest sebentar di tempatmu, biasa lah…menenangkan pikiran, Rabu depan disuruh maju lagi . Eh, gak taunya ketemu di jalan, berarti bisa bareng. Oh iya, Jumat depan giliran kamu yang ngisi kajian di kedokteran."

Akhwat yang hobi berkerudung coklat itu menerangkan dengan semangat. Inilah yang aku suka darinya, apapun yang terjadi, sesusah apapun keadaan dia terlihat tetap tegar dan bersemangat.

" Ok deh.. tapi ngomong-ngomong bawa oleh-oleh gak buatku ? kan lama gak main ke kos sejak sibuk-sibuk persiapan ujian interna ?

Aku bertanya dengan senyum menggodanya.

" Bereeeess.. udah kupikirin kok. Ntar aja di kos makannya."

Dia menjawab sambil menggamit lenganku untuk kembali berjalan menuju ke arah kos ku. Anak ini paling tahu kesukaanku mm.. apalagi kalau bukan coklat.

" Eiitt…. Tunggu dulu di sini ya Dwi manis.., aku hampir kelupaan mau fotokopi jurnal forensik ini ."

Aku teringat kembali dengan buku perpustakaan di tas yang belum sempat ku fotokopi.

"Yah….! "

Dwi mendesah dengan nada sedikit kesal, tapi tetap memberikan senyum manisnya.

" Sebentar kok..cuman 3 lembar, tuh..fotokopi Dinia lagi sepi , jadi bisa cepat ok..!"

Melihat gelagat yang kurang baik aku cepat-cepat menyambung perkataanku sebelum dia berceramah panjang lebar. Sebelum menyeberang aku beri dia senyuman termanis yang pernah aku punya, hihi… kayanya sih.

" Iya dehh… tapi jangan lupaa itu kepala liat kiri-kanan.. jangan nunduk melulu, di tikungan banyak kenda…."

Belum selesai Dwi memperingatkan aku, tiba-tiba….

Ciiiiiiiiiiiiiiiiitt…..Brak !!!

" Aisyaaaaaaaaahhh…….!!!"

Teriakan yang cukup kuat kudengar sayup-sayup. Duh..ada rasa nyeri kurasakan di sekujur tubuhku, untuk kemudian aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Aku sadar penuh bahwa ini betul-betul kenyataan yang harus kuhadapi, bukan sekedar lamunan sesaat. Allah.. apapun yang terjadi setelah ini , jadikan akhir hidupku menjadi akhir yang baik aamiin..

YJK : Sahabat-sahabatku tercinta FK UGM '96 semoga kita semua dapat khusnul khotimah, aamiin

Ket :

Pericardium : selaput pembungkus jantung

Infanticid : pembunuhan bayi

Sunday, May 18, 2008

Surat Cinta

- Road to 6th Wedding Anniversary-


Sydney, 6th May ,2008


Teruntuk : belahan jiwa dan separuh nafas dinda..

Di bumi lancing kuning..


Sayang…sudah 6 tahun kiranya biduk kecil ini kita kayuh bersama. Ada banyak cerita yang pernah kita ukir dalam perjalanannya, walau ada sedikit duka di antaranya namun semuanya manis terasa, ditemani dua syahidah kecil kita ,hadiah dari Allah yang tak terhingga harganya untuk kita jaga. Kenangan kemesraan itu terus dinda bawa walau jarak dan waktu memisahkan . Semakin lekat, manis dan indah dinda rasa setiap waktunya. Walau kadang terselip sunyi dan rasa bersalah yang membuncah meninggalkan semua cinta di seberang sana . Dinda pasrah, kelak pada suatu hari pun entah kapan, kesunyian abadi itu pasti akan menemani hari-hari dinda.


Sayang..setiap bertambah angka kebersamaan itu, semakin hati-hati dinda menghitung sisa waktu kebersamaan kita. Dinda takut waktu yang sudah kita habiskan bersama belum banyak berkahnya, dan dinda takut waktu yang tersisa berikutnya pun akan tersia. Bukankah biduk itu kita arahkan ke samudra ketaatan semata. Ingatkan dinda terus agar tidak lupa dengan pondasi awal bangunan keluarga yang kita dirikan ini. Menyatunya kita disebabkan, dilakukan, dan ditujukan untuk Allah semata. Dunia dan isinya begitu indah kadang membuat hati lena hingga terabailah episode waktu untuk mengingat kembali hakikat hidup dan kehidupan yang sudah dianugerahkan Nya.


Sayang…barangkali ini agak sentimental yaa.. tapi betul2 dinda terinspirasi dengan novel ayat-ayat cinta itu, bukan terinspirasi dari kisah cinta yang ada, tapi ada hal yang membuat dinda tersadar.. rasanya hidup memang tidak bisa hanya sekedar mengalir menunggu ajal, hidup haruslah kita rencanakan dan susun untuk setiap milestone yang akan kita lalui . Karena itu yang akan memotivasi kita untuk terus berjuang mencapai apa yg sudah kita targetkan tanpa mengabaikan tujuan akhir hidup kita. Peta hidup…ah..itu istilah yang dinda ambil dari novel itu. Kita harus punya itu cinta.., Wallahu’alam apa yang akan terjadi di pertengahannya…karena kita punya kuasa sebatas rencana tapi kalaupun gagal dari yang kita harapkan toh itu sudah kita rencanakan dan kita tidak akan kecewa karenanya (ingat kata uzt. Anis Matta ?) ,tapi mencari jalan lain dari peta itu atau bahkan mengubah target semula.

Ah rasanya memang kita perlu merencanakan kehidupan ke depan.. Sepertinya hidup akan terasa lebih hidup. Kadang dinda kurang setuju kalau kanda bilang yahh..dijalani aja semuanya, seperti air yang mengalir. Dinda pikir paradigma itu hanya untuk orang2 yang tidak punya visi ke depan. Dinda punya contoh , dan barangkali bisa dilengkapi nanti, terserah kanda hendak memasukkan target apa saja.

Sayang…tentunya gambaran di atas hanyalah gambaran kasar dari perencanaan perspektif manusia walau sudah ditulis detail, entah dimana akan ada tanda + sebagai peringatan bahwasanya semua akan berakhir…dan keabadian itulah tujuan kita.. Sepanjang jalan peta itu kita ukir..sepanjang itulah desah nafas ibadah kita cinta….tidak detail dinda taruh disana, karena milestone tahun itu hanya tanda kefanaan dan materi yang dapat dirasakan panca indera kita. Kanda bisa taruh di tahun-tahun itu kapan kiranya hafalan Alquran bisa sampai 5 juz .


Subhanallah sayang.. begitu banyak nikmat Nya yg tak mungkin dapat kita hitung selama kebersamaan ini. “ Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan ??” Kita berdoa selalu kanda..agar kebahagiaan ini kekal kita bawa hingga akhirat..pertemuan yang sebenarnya. Dinda berharap tetap mendampingi kanda di sana di alam bahagia yang abadi..


Mujahidah2 kecil kita beranjak besar…, dan akan semakin tua lah kita. Kanda, manfaatkan waktu kecil mujahidah2 kita untuk kebersamaan seberapapun sempitnya waktu.., sering2 lah memeluk dan mencium mereka tanpa meminta mereka melakukan yang sama untuk kita, nikmati masa2 indah kelucuan mereka kanda, apalagi jarak dan waktu akan semakin banyak memisahkan kita nantinya, sungguh pengorbanan yang teramat berat, dan masa-masa itu tidak akan pernah terulang..akan kita rindukan di masa tua kita kelak. Dinda melihat ada seorang ikhwah disini yang begitu dekat dengan anak perempuannya.. Subhanallah..dinda ingin kanda juga seperti itu, penuh kasih terhadap mereka.. bayangkan saat kasih itu kita berikan, cinta itu kita ungkap lewat kelembutan , suatu saat tanpa kita pernah meminta mujahidah2 kita akan berlaku yang sama . Pesan ini pun berlaku untuk umi. Itulah qurota’ayun kita yang sebenarnya.


Sayang..sepertinya kita akan semakin matang dengan perjalanan hidup . Tetaplah terus menjadi nakhoda kami…jagalah biduk kecil ini dengan kasih sehingga tetap berlayar walau diterjang badai . Kami akan ikut berlayar kemanapun biduk ini dibawa selama tetap mengarungi lautan keridhoan Allah semata dan arah yg dituju adalah pulau keabadian. Inilah 6 tahun perjalanan kebersamaan itu cinta.


Balas ya suratnya… lama sekali tak mendapat surat dari kanda. Rindu rasanya ingin membaca untaian kata bijak yang akan dinda bawa selama hidup. Terimakasih sudah membersamai dinda dan anak-anak selama 6 tahun ini, maafkan atas segala ketidaknyamanan yang dirasa selama di samping dinda…. Kanda, dinda ingin dikasihi selamanya…


Teriring cinta yang akan selau subur di dada (insyaAllah)


-Dinda-














Saturday, March 15, 2008

Accommodation


Accommodation is a hard thing to find when the first time you stepped this land. For instance, I had to live in temporary accommodation with my friend for about 2 weeks until I found a permanent one. There are some criteria need to be met when we choose an accommodation to live. Firstly, Of course It should be cheap ! Because It’s ridiculous thing if we spent more than half of our living allowance for housing. Rate of accommodation here ranges from 100 to 300 AUD per week or even more depending on what type of housing we need. Please never once convert the rate into rupiah…! It could make us frustrated . A month fee for renting an accommodation is as the same as one year you rent it in Indonesia. What a life !


Secondly, it had to be nearby campus whilst in general, the nearer you get into the campus, the more expensive you’ll get the one. We should go to campus routinely to get many advantages from it, and It became completely impossible if we stay away from campus, since transportation would be the most important consideration. That’s why looking for an accommodation is hard and easy in between. Sharing apartment , renting a room and home stay are kind of accommodation you can find here. Just try to think about advantages and disadvantages once you decide to choose accommodations. Here, in New South Wales, there’s a department which handle all the things about renting called Department of Commerce, where you gain new insight about your basic rights and responsibilities as a tenant. Check this site :

http://www.fairtrading.nsw.gov.au/

Have a nice hunting for a convinience accommodation..


Much Loves for my 2 cute suns and My Beloved hubby ever….
Ummi will always miss you..!

Sunday, March 09, 2008

My first reflective essay in Usyd

This is the 1st reflective essay I made in Master of Medical Education Program

Hi all..

Probably this is my prominent problem about approach to learning ,since the result of questionnaire indicated that I had surface approach to learning with S (25), D (18), and A (17 ). I just realized that it had been happened for a long time since I was in high school until I got medical doctor behind my name. I tried to remember and analyzed why this thing occurred and what factors influenced the way I learned.

Firstly, I had a lot of subjects to be learned at the same time, for instance I have about 6-7 subjects per semester with wide range of material in every subject, so it made me hard to focus with particular subject because I had to memorise so many things in it with no emphasize to subject which had relation to real world. I was anxious that if I missed something, I wouldn’t get a good result in examination, so every word I kept in my mind for a temporary time because soon I would forget all the things just after the examination finished. This related to assessment which asked questions that only depended on our memory by giving multiple choice questions, even the questions were reproduced from previous exam.

Secondly, teaching and learning activities tended to be one direction, known as teacher-centred, which considered teacher as a source of knowledge, in term that he or she knew anything and this generated depending students with no curiosity to find other sources . Unfortunately, I was included to this group of students who tried to learn from handout or notes of lecturers only. At the other hand, teacher often motivated their students to think systemically and holistically, for example how to connect their present knowledge with prior knowledge in order to make their learning to be more meaningful. And at the other side students lacked of awareness how to build their maturity in learning activities by doing it by theirselves. Sometimes I didn’t know how to relate my previous knowledge even basic medical knowledge with clinical situation when I was in clerkship and that supposed to be hard effort for me dealing with such circumstance.

I hope that what I’m learning now will change approach to learning in my place. There should be improvement from many aspect which involved teachers, students, and learning environment as well.

Anyone has the same experience with me ? :)

Saturday, March 08, 2008

University of Sydney



Let me tell you a little about Univeristy of Sydney , a place where I get my academic knowledge from , which was well-known as the oldest university in Australia. Well.. it was represented by the old buildings around the campus ( figure ). The first time I came here, this university was confusing. It’s hard for me to memorise every road and building in it and no wonder if I often got lost heheh…by the way I suggest that you have to be fit every time because you suppose to use your feet walking around the campus. I don’t want to compare this university with other universities in Indonesia. Here, everything is computerised. Probably we have left 1000 steps behind, but no worries.. I’m sure that someday Indonesia is going to chase it ( be optimistic ). I had an experience when facing a machine which could add our credit to student card for using copying machine. I asked a man, an international student too, how to use it because never had in my life time I used machine like that. I told him honestly that in my country there’s no such a machine. Poor yuni , I whispered in my heart.

Now I’d like to tell you about the students profile here. They came from different cultural background, I guess that there must be, at least one student represented countries all over the world. When orientation week was held, I noticed that probably there were only 15 students from Indonesia, not a big number huh. I don’t’t know much about their lifestyles, but perhaps they were free thinkers. I could take such a conclusion from the way how they dress and socialise. Most of the ladies used topless or backless dresses which showed part of their body and they kissed each other in front of public with no shame. Absolutely, it’s not eastern culture and I was shocked for the very first time saw it by myself . I have to clean my eyes everyday with istighfar….Suddenly I miss my previous environment . There is the place where I belong !
A short description about Sydney University.


I miss u so much : my 2 cute suns and beloved hubby : Ummi will come back !

From the heart of Sydney, March 8, 2008

Brotherhood in Islam


Before I left Indonesia, many thoughts played in my mind about being alone to be identified as a muslim here, in Sydney. But it turned into absolutely wrong perception when I arrived here and met others with the same faith as me. Finally, I found my previous community presented here without any doubt. Brothers and sisters from all around the world gathered and brought the same message, peaceful. Here and there I could find Islamic circumstance with halal food and identities which meant that someone was regarded as a Moslem, although I couldn’t deny that many Moslems acted like ordinary people with jahiliyah ( foolishness ) attributes on them.

When the first time I stepped my foot in Lekemba, a suburb in Sydney, I was surprised for the first sight, as if I’m back home or even in the other world of Islam. Islamic cultures were dominant there. Many shops were owned by Moslem, what a wonderful suburb ! Indonesian’s shop were presented too, with Minang Restaurant ( remind me of Pekanbaru ). I kept in my mind that I have to find accommodation there. But unfortunately, time was not by my side coz until this time I haven’t found it yet (I’ll tell you, readers ,where and how I live afterwards). Back to the community , finally I could continue my study about Islam in a small group, where I can share all my ideas even my burden as well. In another chances I attended many Islamic forum which were held by Iqro’ or Pengajian Usyd. what an interesting experience by joining Islamic community here. There’s a simple conclusion I get that I’m not alone !! This wide world is Allah’s world, where ever you go you’ll find people who serve Allah.


Big hugs for my 2 cute suns and beloved hubby : ummi isn’t alone !

From the heart of Sydney, March 8, 2008

Arrange Your Budget Carefully !!


Well..actually it’s an honour for me to be awarded scholarship for continuing my master degree in Medical Education at University of Sydney, from Ministry Communication and Information Technology of Republic Indonesia . But of course there must be unsatisfied part of it dealing with living allowance fee which we accept monthly. To be honest, it comes below of the standard of living here in Sydney which has everything in high cost. For instance, accommodation charge expenses about half of living allowance fee, beside we don’t have a right for concesion in transportation. Mmm.. what a life ! But anyway, we’re still thankful to MCIT which had delivered us here. This is not about how we ask for more funds, but about how we have to arrange our limited budget carefully. It’s not a simply one since not all of us come from wealthy family background.

Personally, for me it’s a kind of challenge how to use it appropriately and it will be better if we can save it for another budget, traveling for an example. I’m sure that traveling is one of the way out of the blue according to my experience. Don’t you ever spend your money for useless thing in term of something that we don’t really need but we are teased to have it. If you live nearby the campus, don’t try to use public transport but enjoy your feet walking through the road. You will get at least two advantages, first you can save your money and the second you will be trained to get exercise and of course the more you get exercise, the healthier you are :) Another way to save our money is by using library. It provides us a lot of benefits, for instance we can borrow books instead of buying them, because we know obviously that books price is not quite cheap here. Also we can use computer lab instead of accessing internet at home. For student like me who has limited internet bandwidth , it’s more convenient to use internet from campus and again we keep our live longer. What about meal ?? mm…it sounds good if u try to cook although you hate to do that unless you want to spend a half of the rest for food. Yeah.. this is Sydney, man..!

Living alone outside home to continue studying is not my first experience, so I get used to live with limited budget. But separated from my real family, husband and children, for a long time is the first one. Sadness, frustration, loneliness are my friends now. Yet I have to be more friendly with them by ignoring such feelings. This is what I call a lesson learned from real survival field. Keep on fighting ! The true battle is inside forever.

Much loves for my 2 cute suns..

From The Heart of Sydney, March 8, 2008

Sydney, End of Week 3


Loneliness is a particular word to be engaged in my life this time. They are, my sweetest things in life, far..far away beyond my sight. Yet their images still alive here, flying in this blue room. I just don’t know how facing days if my eyes blured with tears. Trying to be tough is another word which encourages me passing all silent nights ever. I have decided it with all consequences considered prior to depart, although sometimes I thought it was wrong by leaving them outside. Standing here is as if I’m in the middle of nowhere, lost in the shadow of pain. I need their touches, smiles, and cries. Those make me regarded as a true human being, as a mother of two cute angels . I hope this will be end soon whenever it is.

Allah..cure me !

Sydney, Day 1


Sydney , February 19, 2008

Day 1
I start to count the days here,a place that I never dreamt of before, which will turn my way someday to be a better one, InsyaAllah.

Opss.. finally pesawat Qantas AF 42 mengantarkan diri ini menginjak benua Australia. Penerbangan yang memakan waktu kurang lebih 7 jam adalah perjalanan yang cukup melelahkan, bukan hanya dari segi fisik tapi juga psikis.., barangkali beban no. 2 yang terasa lebih berat saat harus meninggalkan tanah dan orang2 tercinta dengan kerelaan berbalur air mata. Awalnya biasa saja, tapi setelah “tersadar” bahwa diri tengah berada di antahbarantah..ow.. I feel so blue…ohh.. what a feeling..! Menunggu baggage claim dan imigrasi selama 2 ,5 jam dengan antri tak dapat mengalahkan kesedihan hati saat ini. Menelepon orangtua juga nada berat..menahan air mata. Matahari2 ku…ummi rindu kalian. Ummi gak boleh cengeng yaa… Karena semua sudah Allah atur…

Mmm…mungkin besok akan ada cerita lebih indah yang dapat dituangkan di blog ini.


Sydney…let me in to your heart..

Friday, July 20, 2007

SPIRIT OF THE SOUL

I'm dying.. but still there's a hope to live. The road is out there, reachable...! Be sure that you can pass it, although many obstacles lay on it. All of you, dear family, are my lights to continue this long journey. Love remains in my deepest heart, I'll keep it 'till my soul disappeared. The past which taught us wisdom is ours, and the future which provides promises belong to us. Just try to learn lesson from the sun and the moon... They never feel tired to set and rise everyday. There always be hope.

Smile up to the world ! :)

Friday, March 16, 2007

Tekad Itu...


Allah ghoyatunaa....( Allah tujuan kami )
Muhammad qudwatuna....( Muhammad tauladan kami )
Al-Quran dustuuruna....( Alquran penuntun kami )
Jihad sabiiluna...( jihad jalan kami )
Syahid asma amanina...( Syahid cita kami tertinggi )

Subhanallah....betapa ingin selalu ummi diingatkan Nak..., bahwasanya dalam hidup hanya 5 komponen tekad itulah yang akan jadi ruh kita, begitu pun dalam membesarkan kalian semua. Tadi pas pengajian ummi kembali diingatkan tentang prinsip hidup tersebut. Kadang ummi alpa terlalu disibukkan dengan seluruh pernak-pernik dunia, sehingga ada mungkin tingkah laku yang sedikit menyimpang dari prinsip tersebut, hmm.. sepertinya memperbanyak istighfar adalah solusi penyesalan itu Nak..

Dimana Allah kalau ummi merasa di suatu episode hidup terlalu cinta pada kalian dan tak ingin kehilangan ? Dimana Rasulullah apabila sunnah-sunnah yang Beliau tuntunkan lalai untuk ummi ajarkan kepada kalian? Dimana Alquran apabila tidak pernah ummi jadikan sumber ilmu dalam mendidik dan memperlakukan kalian ?Dimana jihad apabila tak pernah ada kerelaan di hati untuk mempersembahkan kalian di jalan Pemilik Keabadian ? Dimana syahid apabila masih banyak ketidaksiapan ummi untuk menghadapi kematian dan perpisahan. Ummi ingin surga lah tempat kita berkumpul kelak, dan biarlah kefanaan yang akan memisahkan kita untuk sementara bila memang itu sudah suratan Nya. Laa Takhof wa laa tahzan.... Jangan takut dan jangan bersedih matahari-matahariku. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, dan kita membenarkan. Jauh sebelum ummi dilahirkan dan kalian dilahirkan, kita semua sudah mengambil persaksian tersebut dan akan terus kita bawa hingga kembali menghadap Nya.

Allahu Akbarr...!!!

Riau Ujung, 16 Maret 2007

Sunday, March 11, 2007

Hari Ke -6

Aisyah cinta..ummi mulai menghitung hari. Ini hari ke -6 setelah dirimu pergi. Hm... tetap kadang hati ummi biru. Aisyah sayang... baik-baik di sana ya Nak, suara Ais di telepon adalah musik indah kalbu ummi. Ais sudah sekolah TK di sana, among ( nenek. red ) cerita kalau Ais pertama kali masuk ke TK gak ada takut dan malu nya, tau-tau sudah berlari-lari dengan tas di punggung naik perosotan. Ummi tertawa kecil mendengar cerita among. Ais mau bangun pagi, minum susu, sarapan, trus ke sekolah. Tapi ummi gak tau ya apa Ais masih suka ngompol. Heheh.. anak ummi aktif, alhamdulillah...ini karunia tak terhingga buat ummi. Itu artinya anak ummi sehat dan insya Allah cerdas, terlihat dari inisiatif baru yang selalu Ais buat. Mmm.. Nak, dirimu berbeda sekali dengan adik Hafshoh yang sepertinya tidak akan bisa jauh dari ummi, setiap sebentar pengen dekat dengan ummi, kalo ummi ke kamar mandi aja nangis.. adik cengeng ya, kaya ummi masih kecil kali.

Ais juga gak penakut, waktu umur 2 tahun lebih Ais sudah mau tinggal di rumah sendiri, pas mau di ajak ke kondangan Ais nolak dengan alasan ngantuk, dan mau kalau di tinggal sendirian aja di rumah. Ais juga tahan sakit, pas umur 2 tahun lebih juga Ais pernah operasi hernia, itu tuhh.. yang ususnya turun ke bawah, keluar dari rongga perut. Setelah operasi Ais pengen langsung duduk, dan gak pernah menangis2 kesakitan, hanya mengaduh kecil sambil berucap takbir seperti yang sering ummi ajarkan, dan Ais merasa bangga memakai infus di tangan sambil jalan2 keliling ke koridor bangsal mendorong-dorong infusan. Ee.. pas pulang ke rumah Ais naik sepeda trus jatuh nyungsep dari teras yang agak tinggi ke tanah. Masya Allah... kayanya emang gak pernah bisa diam, tapi justeru karena gak diam itu luka Ais cepet sembuh.

Kalau mandi kedinginan pengen minta peluk biar hangat, kalau ummi mau pergi kerja Ais nawarin minta disayang..Ummi akan selalu ingat semua itu nak...biarlah kembali akan ummi kenang di sepanjang masa mengarungi lautan cerita hidup yang pasti nanti akan usai. Ais Cinta , dirimu adalah amanah yang Allah titip untuk ummi dan abi, dan senantiasa akan ummi jaga untuk nanti akan ummi serahkan kepada jalan menuju keabadian itu. Bergunalah kelak untuk agama ini, Sayang....perjuangan itu tak akan bernah usai, dan tongkat estafet itu kelak dirimu yang akan memegangnya. Jadilah syahidah itu cinta.


Keep on fighting sweety..
Pekanbaru, 11 Maret 2007

Monday, March 05, 2007

Berat Rasanya..

Matahari ummi Aisyah...besok ummi mau ditinggal Ais untuk kali ke-3 nya, mm...2 kali kepergianmu, kenangannya tidak ummi goreskan di sini. Tapi kali ini, ummi ingin menguntai rasa melalui kata di blog ini. Rasa kehilangan itu akan ummi rasakan Cinta, waktu 5 bulan bukan waktu yang singkat, apalagi bila setiap detiknya ummi hitung kapan dapat berjumpa lagi. Aisyah Cinta Matahari ummi, salahkah ummi apabila melepas kepergian Ais juga sebagai bentuk bakti ummi untuk among dan yayi ( nenek-kakek. red )?

Rasanya ummi belum banyak dapat membalas jasa beliau berdua, dari SMA ummi jauh, sampai kemudian menikah dan punya Ais juga ummi jauh jaraknya dari Beliau berdua. Aisyah cinta, ummi ingin kebersamaan Ais dengan among dan yayi adalah representasi ummi di hadapan Beliau berdua, supaya among-dan yayi merasakan ummi juga dekat jaraknya. Aisyah cinta, ummi tau kalau Aisyah cinta pada semua, dan ummi yakin cinta itulah yang akan selalu menautkan hati-hati kita.

Aisyah adalah amanah dan anugrah yang diberikan Allah buat ummi, juga buat among dan yayi yang harus kami jaga dan rawat agar semua harap yang kami semat dapat berbuah indah nantinya. Ummi percaya among dan yayi akan dengan baik merawat dan mengasihi Ais seperti waktu Beliau berdua mengasuh dan menjaga ummi waktu kecil. Ummi gak boleh cengeng ya Nak, Ais aja seneng kok bisa ikut sama among. Setiap nangis maunya sama among.., Ummi jadi ingat, dulu juga ummi dekat dengan among ummi. Ah...sepertinya pertautan cinta antara generasi pertama dan ketiga lebih indah ya Sayang, tapi tetap ummi merasa hidup di antaranya, karena cinta kalian untuk ummi adalah energi, dan cinta ummi kepada kalian adalah hidup ummi itu sendiri. Ada yang akan selalu kita ingat sayang, bahwa hulu dan hilir energi dan hidup itu adalah Allah.., jadi semua akan kita serahkan kepada Nya.

Ummi sayang Ais, sayang adik hafshoh, sayang abi, sayang among dan yayi.., ummi tidak akan bisa memilih di antara kalian, karena sejarah cinta itu digoreskan dalam lembar yang berbeda untuk kemudian ummi rangkum menjadi buku hati yang akan tersimpan dalam perpustakaan keabadian . Pergilah sayang.., ini latihan ummi untuk dapat ikhlas melepas apapun yang ummi punya pun yang paling ummi cinta, karena memang pada dasarnya kalian bukan milik ummi, kalian milik Sang Penyayang Semesta. Jaga diri baik- baik ya Nak..., teruslah tumbuh dan berkembang menjadi sholihat kami tercinta, menjadi panutan untuk adik-adik nantinya. Doa ummi selalu membersamai....


I’ll miss u so much sweety..
Riau Ujung, 5 Maret 2007



Kusemat cinta berbalut doa di kedalaman samudera hati orang - orang terkasih.......