Thursday, April 15, 2010

Missing you

Hey, sudah berapa lama aku vakum memelukmu ? Bermesraan tanpa peduli waktu sehingga membuat orang lain cemburu dan merenggutmu ? Aku tidak tahu pasti, yang pasti aku sekarang tengah pindah ke lain hati. Oh..terlalu ! Tapi tunggu dulu.., sepertinya perselingkuhan itu tidak akan berlangsung lama. Aku pasti akan rindu dan kembali padamu, walau aku tidak tahu kapan. Sedihku.

Banyak waktu hilang dari kebersamaan kita, terganti dengan lelah yang terus ada. Jangankan memegang, melirik pun sepertinya aku tak mampu. Kapan terakhir kali cerita tentang dirimu kurangkai dalam diam lalu kujadikan kenang-kenangan yang akan aku buka nanti di masa depan ? sehari ? Dua hari? Berbulan yang lalu? Aku tahu, lara itu kau simpan tanpa mampu terungkapkan.

Betapa kau mampu merayuku hingga mampu melambungkan imajinasiku menembus batas, ruang, dan waktu, serta memantul-mantulkan emosiku di setiap sisi-sisi kesadaranku. Pengalaman batin yang tidak akan mampu aku gantikan dengan apapun. De Javu – ku di suatu masa kanak-kanak lalu bersamamu. Kau memberiku banyak hal berguna tanpa meminta balasan atas apapun juga. Aromamu meruak dan menjelma menjadi candu pada suatu waktu. Pesonamu meluluhlantakkan keangkuhanku, membuatku hanya mampu diam menikmati setiap belaian jiwa tanpa kata. Tunggu aku kembali. Tetaplah di sana bersama sabarmu yang tak bertepi. Akan ada suatu masa kita bertemu karena sungguh aku butuh dirimu.

IKK, Medio April 2010.

Presentasi Perdana

Selesai sudah presentasi pagi ini. Antara sukses dan tidak sepertinya. Presentasi perdana yang cukup menguras energiku selama dua hari berturut-turut. What a tiring days ! Pukul 07.00 pagi dengan tangan sedingin AC di ruang ilmiah, aku bersama seorang teman yang juga akan mempresentasikan bacaan jurnalnya, berdiri di depan diikut kurang lebih dua puluh pasang mata. Nervous ? Sudah pasti ! Tiba-tiba aku merasa mengalami gangguan tenggorokan pagi ini. Semenit, dua menit, akhirnya dengan tidak memakan waktu lama presentasi kami lalui.

Memecahkan rekor waktu presentasi tandem tersingkat, hanya 25 menit ! Diikuti dengan menjawab pertanyaan yang kemudian dijawab dengn apa adanya. Itu karena kami masih anak baru. Heheh…sebuah apology yang sebisa mungkin kupenjarakan di dalam logika dan akalku. No excuse of course ! Presentasi kami pada pagi hari ini sudah terlalui dan masih ada dua tugas lagi menunggu, yaitu Book Reading dan Laporan Kasus.

Sungguh, semua ini adalah tantangan yang mengasyikkan walaupun tetap menjadi beban, tapi sebisa mungkin aku ingin melalui nya tanpa keterpaksaan. Membaca, belajar, mencari tahu semua hal yang menimbulkan tanda tanya di sekelilingku, sekiranya itu mampu membuat setiap jaras otakku hidup dan bekerja membuka setiap jalur buntu di setiap cabangnya, sehingga hal itu dapat membuatku tetap hidup dalam arti sebenarnya. Duh..betapa banyak yang hal-hal tidak kami ketahui sebenarnya, dan betapa terbatasnya kemampuan untuk mengetahui semuanya. Beri kami kemampuan memahami ilmu Mu yang tidak terbatas itu ya Allah, jadikan kami manusia-manusia yang bermanfaat untuk sesama dengan ilmu yang kami punya. Jadikan pula ilmu itu membuat kami lebih berilmu dalam mengenal Mu Ya Allah. Aamiin. Pagi ini bait doa itu kulantunkan lewat ketukan keyboard laptop, sebagai pertanda awal baru yang akan kami lalui selanjutnya.

IKK, Medio April 2010

Wednesday, March 31, 2010

Tough

Aku lihat di sana Merapi bertahta
Tegak dengan perkasa tanpa ada yang menyangga
Aku tergugu
Sekiranya karena aku tak mampu berdiri tanpa pasak-pasak besi
Yang mengitari
Sekiranya karena aku belum mampu berdampingan mesra dengan beban
Dan terkadang masih menjumpai pengertian yang mengguncangkan
Luruhku menderu di antara detik demi detik waktu

Penyesalan ini sejatinya dapat kutangguhkan
Bila semangat merapi selalu menjelma dalam setiap lara
Aku tahu
Lelah ini tengah mencari muaranya jauh di samudera hati
Yang tengah kucoba membuatnya tak bertepi walau terasa jeri
Agar larungannya berubah menjadi bunga-bunga
Yang dapat memesona jiwa-jiwa

Allah..
Jadikan aku Merapi itu
Sekali ini saja

IKK, Penghujung Maret 2010

Wednesday, March 24, 2010

Cerita Sore

“Dokter Yuni…..!”

Sebuah suara setengah berteriak keluar dari seorang perempuan paruh baya di sore yang mulai temaram itu. Aku cukup kaget dengan teriakan itu sembari mencari sumber suara. Sebuah wajah yang cukup kukenal berlari kecil menuju tempat ku duduk di depan poli jantung rumah sakit tercinta saat aku tengah menunggu orang-orang tercinta menjemput dari rumah . Rumah sakit yang pada suatu masa yang lalu pernah menemani hari-hariku menuntut ilmu, dan kembali cerita bersamanya kurajut beberapa tahun kemudian hingga detik ini.

“Oh…ibu ?!”

Aku bergegas bangkit memberi sambutan dengan senyum jabat tangan hangat pada wanita itu yang kemudian kukenal sebagai seorang ibu yang tak pernah surut laut sabarnya menjaga buah hati yang tengah sakit, yang notabene adalah pasienku beberapa waktu lalu. Cinta yang lebur pada buah hatinya dapat kubaca di setiap gerak-geriknya. Cinta itu adalah mata air kehidupan si anak sehingga mampu bertahan hidup di antara sakit yang sewaktu2 dapat merenggut jiwanya.Ah, indah nian kiranya.

“Bagaimana kabar Melati, Bu??” (nama sengaja disamarkan) Sudah sehat kah ?? “

Aku bertanya dengan keingintahuan yang bukan basa basi.

“Alhamdulillah sudah sehat, Cuma masih ada masalah kulit sedikit.” Jawab si ibu.

“Tadi saya habis beli salep trus lihat dokter Yuni, makanya saya langsung ke sini. Dokter ditanyain sama Melati, katanya kangen sama dokter Yuni.” Si ibu berkata dengan semangat.

“Oya…? “

Aku menjawab tidak kalah antusiasnya, karena memang seharusnya aku menanyakan nomor teleponnya saat pulang dulu, agar aku dapat memantau perkembangan Melati, tapi apa daya memoriku sedemikian buruknya saat itu, sehingga untuk mengingat hal sepele itu aku tak bisa.

“Iya, katanya dokter Yuni kalo memberi nasihat enak, gak nakut-nakutin.” Si ibu melanjutkan dengan semangat. Aku hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan itu.

Ah..tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang membahagiakan sore itu. Sederhana. Hanya bertemu dengan keluarga eks-pasien dan mendapatkan kabar bahwa keadaanya semakin baik. Apalagi yang membahagiakan seorang dokter selain melihat orang-orang yang berada dalam perawatan dan pengawasannya kembali sehat seperti semula. Masa kritis dapat terlalui dengan sempurna karena izin Nya semata. Cukup sudah. Kalaupun ada bunga-bunga diantaranya, itu hanya bonus dari Sang Pemilik Rasa.

Bagaimana aku pernah menitikkan air mata di dalam doa dan sujudku di siang itu, saat di suatu masa keadaannya terlihat memburuk. Aku tak berdaya saat itu. Pengakuanku panjang atas kelemahan yang aku punya. Aku kecil tanpa punya apa-apa. Ketergantunganku pada Nya sedimikian tinggi. Allah uji hatiku saat itu. Alhamdulillah, pengakuan itu berjawab, Melati dapat kembali membaik.Cerita sederhana sore ini telah me-
recharge ulang tenaga dan semangatku untuk hari esok, setelah lelah menggelayut seharian. Besok pagi pukul 07.00 kembali rutinitas itu akan aku jelang dengan BIsmillah. Lalu nikmat Allah yang manakah yang bisa kudustakan ??

Srowolan, Maret 2010

Saturday, February 20, 2010

Curhat


Tergelitik hati ini untuk kembali berbagi di blog indah yang sudah beberapa purnama ini kerontang ditelan sibuk dan letih yang masih belum terbiasa. Perlahan tapi pasti sebuah harap kusemat di jejak-jejak langkah menapaki episode baru kehidupan yang dulu memang pernah kuimpikan : menjadi mahasiswa program spesialis kulit. Sebuah prestasi langka yang cukup diminati oleh banyak orang. Lalu, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan ?

Spektakuler ! Rencana Allah begitu memesona jiwa, menarikku ke dalam pusara waktu yang tak dapat kuundurkan walau sesaat. Setelah beberapa waktu yang lampau kelu menerima kenyataan bahwa harap itu tinggal harap. Kembali takdirku diuji. Dan disinilah aku berada. Di tengah komunitas asing yang tengah kuajak bersahabat dalam kehidupanku. Hilir mudik di antara mereka-mereka yang sakit, menjadi pencerah, menjadi pengobat luka, berbagi, dan memberikan semua hal terbaik yang aku punya. Sungguh ingin kureguk sepuas2 nya kenikmatan itu. Kenikmatan yang tidak setiap orang dapat merasakannya. Kenikmatan yang berakar dan terbingkai pada keikhlasan dan kebesaran hati menjalaninya.


Letih badan, letih jiwa, dan menjadi segolongan orang ‘teraniaya’ pada awalnya, sekiranya bukan menjadi pengendur semangat untuk terus maju berhadapan dengan sekian macam cobaan yang sudah siap kutanggungkan sejak awal. Yang sakitnya masih dapat kucari obatnya. Berbekal keyakinan yang sedemikian tingginya bahwa Yang Maha akan mempermudah segala urusan hamba Nya, kuterima takdir ini dengan sepenuh hati, sebuah pilihan hidup yang sebisa mungkin kukompromikan dengan keadaan. Permakluman tak terhingga dari orang-orang tercinta yang tercermin dalam bentuk dukungan dan pengorbanan kucoba kuletakkan dalam kaca penghargaan tinggi yang tak mungkin dengan tega kuretakkan. Kepada mereka yang telah gagah perkasa tegak berdiri di belakang layar kehidupanku sesungguhnya akan kuserahkan gelar itu.Tanpa kalian aku bukan apa-apa. Tanpa kalian aku hanya seonggok jiwa tanpa makna.

Note: terimakasihku untuk semua cinta yg membaluri langkahku. Mas, tiga permataku, mama-papa, ibu-bapak, dan semua yg sudah menyumbangkan doa dan tenaga untuk terusnya langkah ini menuju surga. Aamiin.

Saturday, December 26, 2009

Feeling Guilty

Pagi yang cerah untuk online. Buka Facebook. Inbox ada satu pesan. Wahh..ini pasti balasan dari temen yang kirim pesan kemaren.Buka ahh….!! Terkesiap…,ooohh…what kind of mess I’ve done hikss…, ada yang terluka karena diriku di facebook. MasyaAllah…sedih sekali, baru saja diriku mendapat teman baru, sudah kulukai perasaannya karena kekhilafan yang tidak aku sadari. Rasa bersalah itu trus menghantui….berlanjut hingga selesai sujud ku pada dhuha itu. Permintaan maaf bertubi-tubi kukirimkan pada teman baru ku itu. Harap-harap cemas, menunggu seperti apa reaksi beliau.

Sungguh, manusia itu gudangnya salah. Kita pernah terluka dan melukai orang lain baik sengaja atau tidak. Allah, hari Ini aku diingatkan kembali. Hari ini aku mendapat pelajaran berharga : Sebelum bertindak dengan lisan atau tulisan, pikirkan dulu baik-baik jauh ke depan apakah sekiranya hal tersebut patut atau tidak. Kadangkala hal sederhana dalam anggapan kita memberikan dampak yang tidak sederhana pada orang lain. Kecil menurut kita, besar menurut orang lain.Berpikirlah melalui perspektif orang lain, bukan keakuan yang dikedepankan. Ah…aku sendiri sering merasakan hal seperti ini. Terluka karena hal kecil yang dibuat oleh orang lain. Terlalu perasa. Cap itu yang diberikan suami untukku. Lalu setelah kejadian ini, aku tahu seperti apa rasanya. Betapa tidak adilnya aku.

Anyway, terimakasih Mbak..untuk mengingatkan. Seandainya pesan itu tidak ada, barangkali sampai detik ini aku masih merasa nyaman dengan kesalahan yang tidak kusadari itu.

(Teriring salam ukhuwah untuk mbak…
)

Friday, December 25, 2009

Scar of David, Scar of Palestine

Jenin. Shabra. Shatila. Nama-nama itu adalah prasasti duka yang yang didirikan di atas perjuangan, pengorbanan, air mata dan darah bangsa Palestina –pemilik sah tanah Pelestina -- puluhan tahun silam. Pahatannya dibangun oleh kebencian, penindasan, penyiksaan dan ketidakadilan oleh bangsa yang mengaku terbaik di antara bangsa lain. Yahudi.

Genosida yang dilakukan Yahudi pada kamp-kamp pengungsian tersebut menjadi latar belakang novel fiksi sejarah ini. Buku setebal 478 halaman yang mengalami cetakan pertama pada April 2009, terbitanHikmah , karangan Susan Abulhawa ini menorehkan luka, sama halnya dengan luka parut yang dimiliki oleh David, seorang Palestina yang ‘terpaksa’ menjadi Yahudi di luar kehendaknya. Di bagian cerita lain, keluarga David yang asli, keluarga Palestina, harus berjuang mempertahankan hidup di balik kekejian tentara Yahudi. Termasuk pelaku kekejian tersebut adalah David, si anak hilang yang ketika bayi direnggut oleh tentara Yahudi dari pelukan ibunya.

David alias Ismael bediri di antara dua identitas samar yang harus dilakoninya puluhan tahun , sebuah kenyataan hidup yang menyakitkan. Amal, si adik yang yang kelak dijumpainya, tertempa hari-hari penuh trauma. Kejadian demi kejadian hidup yang dialaminya membingkai erat karakter besinya di kemudian hari hingga ajal menjemputnya saat menjadi tameng peluru Yahudi bagi sang anak yang dicintainya dalam diam. Cinta itu dalam tak berdasar, jauh tak berbatas, namun sulit dipahami seketika itu juga.

Membaca gaya bahasa penulis (atau penerjemah ?? ) ibarat melihat film bergenre suspense yang membuat kita bersiap untuk kejutan-kejutan rasa. Latar belakang sejarah yang nyata diramu ke dalam fiksi mampu membuatku meneteskan air mata saat membaca bagian pembantaian Shabra dan Shatila. Kekejaman jenis apa yang tengah dipertontonkan bangsa barbar itu ?? Emosi ku teraduk. Ingin rasanya pedih itu kugenggam dan rasakan di sekujur tubuhku. Sungguh tak ada yang dapat diharapkan dari keadilan dunia yang ambigu ini. Tetaplah bersabar saudara-saudaraku. Allah Maha Tahu. Lukamu adalah lukaku. Doa selalu teriring di setiap sujudku.

Wednesday, December 09, 2009

Gak Penting !

I hate of being abandoned
Just because you used to see me everyday
You acted as if I deserve your ignorance
for a small thing which meant a lot to me
When you were entering your untouchable palace, everything was put at the back as useless- broken shoes

I hate of being abandoned whether or not your business is important
Sometimes it irritates me badly
What if ‘the small thing’ informed you ‘the great thing’ while you were abandoning me
Still was I about to be blamed

Being abandoned is such a misery to me
It can be obviously seen through my truthful eyes
Please be realized

If you are trying to be a good one for everyone you love
Not even once leave us behind

(for everyone abandoned by beloved one)

Sunday, December 06, 2009

Happy Milad to My Beloved Mas

Hari ini genap 33 tahun usiamu
Tidak muda lagi tentu
Sudah ada tiga permata kecil yang akan selalu membuntuti jejakmu
Menyusuri pahit, manis dan rupa-rupa rasa
yang semuanya tercipta berkat hadirmu di sini

Selaksa doa lahir dari cinta-cinta kami
Menguntainya indah lewat kecup sayang di pipi
Semoga abi panjang umur
Ucap si sulung

Kuteruskan dengan doa yang lain
Semoga terus jadi abi sholih kebanggaan kami
Tetap istiqomah menakhodai kapal kecil ini menuju ridho Ilahi
Menjadi naungan letih jiwa-jiwa kami
Menjadi ayahku hebat versi seluruh awak

Sudah 33 tahun, Mas
7,5 tahun di antaranya kita bersama
Masih panjang perjalanan kebersamaan itu
Bila Allah berkenan memberi waktu
Kami berharap
adanya kami
Akan menjadi pelecut semangat hidupmu
selalu...

Sungguh….
di antara riuh rendah jiwa-jiwa kami
kau begitu berarti

Happy milad abi tersayang, mas tercinta

The Road of Lost Innocence

Dari sekian banyak buku yang kubaca, sepertinya buku ini menempati peringkat teratas dalam hal waktu penyelesaiannya. Hanya cukup satu malam saja aku habiskan untuk membaca buku ini. Ada 2 alasan mengapa aku mampu menghabiskannya dalam satu malam, yang pertama karena buku ini tidak terlalu tebal, hanya 286 saja. Kedua adalah bahwa buku ini begitu menariknya menurutku. Sebuah kisah hidup tragis yang mampu diceritakan ulang, walaupun itu berarti pengarangnya seolah merobek kembali luka lama yang sudah kering. Nyeri sudah pasti.
The road of Lost Innocence buah karya Somaly Mam & Ruth Marshall, terbitan Hikmah, mengalami cetakan pertama pada bulan April 2009, akan tetapi aslinya buku ini terbit pada tahun 2005.

Buku ini bercerita tentang seorang perempuan dari suku terasing dan dikenal sebagai suku liar, suku Phnong, di pedalaman Kamboja. Perempuan ini tak mengerti asal usul hidupnya, karena hidup dan dibesarkan oleh alam hutan hujan tropis tanpa kedua orang tuanya. Nama Somaly Mam dilekatkan padanya oleh orang lain, yang kemudian di bawanya hingga dewasa sebagai suatu kebanggaan.

Somaly memulai hidup tragisnya saat dijual kehormatannya pada usia 10 tahun oleh orang yang dianggapnya kakek. Beberapa tahun sejak saat itu Somaly mengalami banyak kekerasan fisik dan seksual, terutama setelah menikah paksa di usia 14 tahun. Kehidupan tragis itu terus dibawanya hingga terjebak menjadi korban dalam perdagangan manusia, yang membuatku bergidik, miris, dan marah saat membacanya.
Anak-anak yang masih berusia 12 tahun ke bawah adalah target trafficking , karena mitos bodoh orang-orang di sana adalah, apabila meniduri seorang perawan maka vitalitas akan terjaga dan terhindar dari AIDS. Padahal bagi umumnya orang Kamboja yang juga memegang adat ketimuran, menjaga keperawanan dan kehormatan adalah sesuatu yang sakral. Sayangnya di sisi lain, mereka pun tak segan-segan menjual anak, isteri, atau keponakannya untuk menjadi barang komoditi terlarang itu demi segenggam uang. Ironi.

Kekerasan yang dialami Somaly berhenti dan kehidupannya menjadi lebih baik saat bertemu dengan lelaki berkebangsaan Prancis yang kemudian menikahinya. Belajar dari kegetiran hidup yang dialaminya Somaly bertekad untuk mengabdikan dirinya dalam membantu perempuan-perempuan lain yang mengalami nasib sama dengan dirinya. Diperdagangkan. Berkat perannya tersebut, Somaly mendapatkan penghargaan internasional Asturias untuk kemanusiaan dari pemerintah Spanyol.

Somaly adalah satu dari sekian banyak perempuan yang mampu bangkit dari keterpurukannya. Tekad , semangat dan motivasi untuk memperbaiki hidupnya selalu kuat tertanam dalam diri Somaly. Walaupun perubahan besar mengembalikan harga diri dan kepercayaan dirinya sendiri memakan waktu yang tidak singkat, Somaly tidak pantang menyerah. Kemauan kuatnya untuk lepas dari tirani perbudakan hawa nafsu menjadi orang baik-baik dan kemudian mengabdikan diri untuk membantu teman-teman senasib nya melalui aksi kemanusiaan yang rajin dilakukannya hingga saat ini. Melompat dari rumah bordil satu ke rumah bordil lainnya untuk tidak hanya ‘sekedar’ membagikan kondom sebagai sarana pencegahan penyakit menular seksual, tetapi juga membantu para perempuan yang ‘terjual’ dan ‘terpaksa’ untuk keluar dari tempat itu.

Saat ini Somaly menjadi presiden bagi yayasan yang dibangunnya : AFESIP (Aksi bagi perempuan dalam kesulitan). Percayalah, siapapun perempuan yang membaca buku ini pasti akan banyak bersyukur karena tidak mengalami penderitaan maha dahsyat itu. Tak terkecuali aku, dan doaku semoga anak-anak Indonesia terlindung dari perdagangan manusia yang keji itu.

Love in a Torn Land

Joana, seorang perempuan Kurdi yang berusaha memperjuangkan hidup dan cinta nya di tengah pertikaian etnis yang tak kunjung usai. Harapan untuk kebahagiaan dan kehidupan lebih baik harus dibayar mahal dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Kematian dan penderitaan bangsa Kurdi di tengah pemerintahan Iraq yang kejam adalah pemandangan yang biasa di sekitarnya.

Kesalahan orang-orang sipil yang mengalami penderitaan itu hanyalah karena mereka dilahirkan sebagai etnis Kurdi, satu dari sekian banyak etnis yang terusir dari tanahnya sendiri. Setelah mengalami penantian panjang dan pasang surut sebuah kesetiaan terhadap kepastian cintanya yang luruh karena puisi bertubi-tubi, Joana mantap menentukan pilihan hidupnya untuk membersamai kekasih hati menjadi peshmerga, sebutan untuk pejuang Kurdi yang berjuang untuk kemerdekaan tanah airnya.

Perempuan keras kepala itu siap dengan resiko apapun yang akan dihadapi dalam perjalanannya menembus hutan dan gunung termasuk resiko hampir kehilangan penglihatannya akibat bom kimia yang ditebar pemerintah Saddam Husein untuk melenyapkan etnis yang dianggap sebagai duri dalam daging tersebut. Pada akhirnya, setelah perjuangan yang nyaris tak berujung itu, Joana dan Sarbast, suaminya, mendapatkan jalan untuk hidup di negara lain yang menjanjikan kehidupan lebih baik untuk mereka.

Kisah di atas adalah sebuah memoar tentang pilihan hidup, perjuangan, dan cinta yang mempunyai konsekuensi logis saat berketetapan hati menapaki satu-satu takdir yang menyelimutinya. Terlepas dari semangat reliji yang kurang dimiliki oleh seorang Joana – terlihat dari tak pernah sedikitpun disinggung ritual ibadah yang dilakukannya sebagai seorang muslim sepanjang cerita hidupnya– Joana adalah sosok perempuan tangguh dan tanpa keluh. Suatu sikap yang patut untuk kita tiru dalam menapaki semua cobaan hidup, yang mungkin lebih ringan dibanding cobaan Joana.

Walaupun ada bagian-bagian deskripsi tempat kurang tajam diungkap sehingga aku agak kesusahan melambungkan imajinanasi saat membacanya, seperti pada saat Joana mengembara di setiap desa dan hutan di wilayah Kurdistan, secara umum buku setebal 573 halaman, karangan Jean P. Sasson, terbitan Ramala Books dan mengalami cetakan pertama pada tahun 2009 ini dan dilengkapi beberapa ilustrasi, adalah buku yang patut untuk dibaca para pecinta buku.

Wednesday, November 25, 2009

Take Me Out (of this show)

Yak..sekarang giliranku untuk urun komentar tentang acara TV yang setiap akhir minggu ditayangkan oleh Indosiar dengan dipandu oleh Bung Choky yang elegan dan Mbak Yuanita yang selalu membuka bagian dada . Kadang ada juga pertanyaan iseng dalam hati melihat pemandu acara (apapun itu) yang menggunakan topless, adakah mereka tidak merasa risih, kedinginan atau masuk angin ??

Aku mulai mengenal acara ‘Take me/him Out Indonesia’ ini sejak bulan Ramadhan yang lalu.Itupun tanpa disengaja. Pertamanya malah bertanya pada suami acara apa ini saat beberapa kali kuperhatikan Beliau begitu seksama mengamati acara ini, berhubung tidak ada acara berita yang disukainya pada jam itu. Aku tidak perlu menceritakan seperti apa kronologis acara tersebut , selain karena mungkin rata-rata orang Indonesia yang bisa mengakses media elektronik menonton acara ini , aku pun tidak begitu intens mengikuti dan paham dengan alur acara ini sampai akhir. Aku hanya mengamati silih bergantinya laki-laki atau perempuan yang dipajang, dinilai, dan dipilih di atas panggung lewat lampu-lampu hidup dan mati. Dan sekilas melihat acara ‘dating’ yang disiarkan sore di akhir minggu, dimana beberapa pasangan tampak bercengkerama seperti sepasang pengantin baru yang berbulan madu ??? Sepertinya ada iming-iming hadiah yang cukup besar apabila ada pasangan yang bisa sampai ke jenjang lebih lanjut atau menikah. Hal ini tentu menjadi pemicu agar banyak orang yang mendaftar menjadi kontestan. Bagi para kontestan sendiri ada 2 keuntungan yang ingin diperoleh, syukur-syukur bisa 3, yaitu : hadiah, ketenaran (karena masuk tv) , dan dapat jodoh (seandainya beruntung).

Berawal dari rasa ingin tahu, aku mulai rajin memperhatikan acara ini walau tidak pernah secara keseluruhan. Dimana-mana, tema perjodohan itu selalu menarik minat orang untuk tahu lebih jauh tidak terkecuali diriku. Banyak komentar yang sering terlontar saat melihat para kontestan menentukan pilihan dimana paling umum terlihat adalalah mereka memilih pasangan hanya berdasarkan pada pandangan fisik sekilas, pekerjaan,atau kemapanan. Tak lebih. Aku dan suami hanya menggeleng-geleng melihat fenomena tersebut, karena paradigma yang mereka pakai sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kami pahami selama ini. Paradigma yang berdasarkan keimanan dan tuntuan Islam. Yang lebih mengenaskan lagi adalah, bahwa orang-orang yang mencari pasangan itu bukanlah orang ‘biasa-biasa’ saja. Rata-rata mereka memiliki fisik dan kemapanan yang lumayan, tapi mengapa di usia-usia dimana seharusnya mereka sudah mapan berkeluarga, masih juga berkeliaran mencari jodoh hingga masuk ke acara itu. Aneh. Betapa jodoh itu misteri.

Pada akhirnya keimananku pula yang berbicara, saat pada acara ‘dating’ terlihat bagaimana mesranya pasangan-pasangan itu menjalani kehidupan mereka, layaknya pengantin baru. Hal ini membuatku jijik, bagaimanapun juga hubungan seperti itu sangat-sangat dilarang dalam agama. Mendekati zina. Tapi sepertinya media ingin mengaburkan opini tersebut melalui tayangan itu. Proses awal dan akhir acara yang jauh dari nilai pendidikan ini ,mau tidak mau membuatku gatal untuk mengkritisi ketidakpatutannya dari segi isi. Beberapa hal menjadi catatan pinggirku, sekaligus keprihatinan mengingat tipu daya untuk menjerumuskan anak-anak manusia ini justeru digandrungi dan didukung oleh umat manusia di Indonesia . Bisa dibayangkan bila banyak yang suka, rating akan meningkat. Semakin tinggi rating, semakin banyak pemasang iklan. Harga jual slot siaran niaga pun semakin mahal. Ini berarti semakin besar pemasukan. Sebaliknya, jika ratingnya terus-menerus rendah, dapat dipastikan sebuah stasiun televisi takkan bisa bertahan. Rating adalah hidup-mati stasiun televisi. Sehingga dampaknya adalah, bila rating tinggi mau tidak mau acara ini akan terus bertahan dalam rentang waktu yang cukup lama seiring dengan pengikisan nilai-nilai yang terjadi akibat acara tersebut.

Dari pengamatan yang aku lakukan selama beberapa waktu terhadap acara yang mentah-mentah menjiplak Eropa (Denmark) tersebut, aku yakin bahwa ini lah bentuk ghazwul fiqr (perang pemikiran) itu. Mengubah opini suatu kaum terhadap nilai (dalam hal ini nilai Islam) dengan mengemasnya dalam bentuk kemegahan dan keindahan semu mengatasnamakan bisnis hiburan. Berikut hal-hal yang menjadi catatanku:

1. Acara ini adalah bentuk eksploitasi baik terhadap perempuan. Hal ini terlihat dari penampilan para kontestan perempuan yang di make-over menjadi cantik dan seksi di setiap episodnya. Alih-alih ditutup rapat, tanpa malu-malu mereka mempertontonkan keterbukaan aggota tubuh di hadapan hadapan jutaan pasang mata di seluruh Indonesia. Para penonton pun lama kelamaan terbiasa deng an pemandangan pamer aurat seperti itu. Padahal menurut aturan agama hal tersebut dilarang. Inilah pembelokan opini tersebut. Dengan penampilan fisik itulah diharapkan laki-laki akan tertarik saat pertama kali melihat perempuan dan secara sadar, perempuan telah membiarkan dirinya ditaksir berdasarkan proporsi bentuk tubuh yang telah ditakdirkan oleh Allah.Murah bukan ?? Apakah ada seorang perempuan berjilbab suka rela masuk menjadi kontestannya?? Kita lihat saja nanti. Naudzubillahimindzaalik. Sempurna sudah ikhtiar industri bisnis hiburan tersebut bila hal itu terjadi.

2. Budaya hedonis disebarluaskan melalui acara ini. Ketertarikan itu didasarkan pada keduniawian semata, terlepas dari identitas agama yang sering disebutkan pada awal perkenalan. Semakin mapan seorang calon yang menjadi pilihan yang diperlihatkan melalui gambaran kehidupan sehari-harinya, semakin banyak pula lampu yang tidak mati. Semakin mudah bagi si laki-laki untuk memilih. Sebaliknya, jangan berharap banyak bila secara seorang laki-laki pas-pas an dalam hal finansial. Dia akan gagal mencapai peruntungannya.

3. Berzina-lah, kami akan mendukungmu ! Kalimat kasar itulah yang mungkin secara implisit diberikan para pendukung sms untuk pasangan-pasangan tersebut. Semakin jelas kemesraan yang terlihat saat acara ‘dating’ itu, semakin banyak orang-orang yang bersimpati dan mendukung pasangan tersebut, kans kemenangannya pun akan semakin besar. Lucunya lagi, orang tua para kontestan yang dihadirkan di panggung itu kadang-kadang tampil dalam bentuk orang tua yang paham agama, tapi mengapa mendukung tingkah laku anaknya yang melanggar agama ?? Dukungan yang luar biasa aneh lagi bila datang dari seorang yang dianggap sebagian rakyat sebagai pemuka agama, seperti beberapa waktu lalu ada seorang yang mengaku ‘ustadz cinta’ yang mengamini pasangan-pasangan di luar nikah tersbut. Apa jadinya agama ini, kalau ayat-ayat Allah diperdagangkan dengan harga yang murah ?

4. Sudahi tontonan ini. Jangan sampai kita tertipu dengan bungkus luar, tanpa bisa mem-filter isi di dalamnya. Kita jaga anak-anak kita dari tontonan yang tidak mendidik ini. Ubah chanel televisi kepada tontonan yang lebih sehat, dan matikan televisi bila tidak ada tontonan lain selain itu.

Alhamdulillah, proses penyadaran itu timbul dari masih hidupnya keimanan yang aku punya.
Apabila kemaksiatan itu di depan mata, ubahlah dengan tanganmu. Bila tidak bisa di ubah dengan tanganmu, maka ubahlah dengan mulutmu. Bila tidak bisa juga dengan mulutmu, maka ubahlah dengan hatimu. Dan itulah selemah-lemah iman. (Al-hadits)
Wallahu’alam bis showab.

Friday, November 13, 2009

November Rain

Ah..segar nian rasanya bau tanah yang terlumur air hujan, menguap memenuhi rongga dada. Hari ini, Alhamdulillah, setelah beberapa waktu mentari digdaya di singgasananya sepanjang hari sembari menyisakan panas dan haus, akhirnya datang juga tumpahan hujan kiriman Sang Penguasa langit di bulan November ini. Hujan dimana-mana sama, berupa butiran air yang tercipta dari kondensasi uap di awan lalu turun berkejar-kejaran yang kadang tanpa henti selama beberapa menit hingga beberapa jam. Tapi sungguh, cerita yang di bawa di setiap musimnya nya berbeda. Ada rupa-rupa rasa yang pernah menghinggapi diri seiring titik-titiknya yang menderu-deru.

Bersama hujan pula di musim panas yang basah, semangat menuntut ilmu di Sydney Uni memenuhi langkahku menyusuri Paramatta road yang ramai, melintas danau Victoria Park sambil memandang itik – itik hitam yang diam kedinginan, lalu berbelok menuju Arundel St yang mendaki. Sepanjang jalan aku mendengar kecipak air yang tertampar sepatu ketsku bila melalui genangan air. Setelah lepas dari canda hujan, aku menutup payung dan mengibaskan coat memasuki Mackie Building dimana proses pembelajaranku berlangsung.


Pada hujan di musim gugur yang basah dulu pernah kutitip rindu untuk orang-orang terkasih lewat jendela di rumah tinggalku nun jauh di benua Australia sana. Kala itu bersama hujan, kurasakan sepi yang sangat, hingga hanya mampu kumaknai dengan air mata. Mapple yang mulai berubah warna menjadi coklat muram, turun satu-satu seiring hujan dan angin yang dingin, sedingin hatiku. Waktu itu bulan Juni, dimana seharusnya banyak peristiwa indah yang ingin kunikmati bersama orang-orang tercinta di seberang sana, sehingga hujannya memberikan lebih banyak arti buatku. Perasaan asing, indah, sekaligus menyakitkan untuk dikenang dalam kesendirian melingkupiku saat itu.


Bersama hujan di musim dingin menggigit pula, ukhuwah kurasakan demikian indah. Rinainya yang halus menemani ku di jendela kereta cityRail menuju Lakemba, Bankstown dan Punchbowl dimana perasaan sepi itu mampu terobati dengan menyatunya hati-hati kami menuju Ilahi. Ada kehangatan yang kurasa di balik dinginnya. Hujan juga yang menemani Id kurban ku pada waktu itu. Penuh haru.


Ditemani hujan pula, pada musim semi yang basah, aku mengagumi ciptaan Nya di Bondi Beach yang indah bersama teman-teman penerima beasiswa Depkominfo dari Melbourne. Menikmati coastal walk menuju Bronte Beach di sela-sela gerimis halus. Belum pernah aku melihat gerimis yang begitu halusnya ibarat debu basah yang bersusun meyerupai tirai tipis. Aku hanya pernah menjumpai itu di Sydney. Sungguh, sepertinya aku akan merindukan hujan itu.


Kembali pada musim panas yang basah, hampir setahun kemudian aku menghabiskan sore yang basah menatap Darling Harbor yang bercahaya bersama suami tercinta dan janin tujuh bulan di dalam kandunganku, menyusuri tiap sisinya dengan bergumpal rindu yang tumpah ruah, setelah sekian lama berpisah . Bulan madu yang sempat tertunda itu rasanya mustahil terulang lagi. Bersama hujan pula kami terjebak di Monas,setelah pulang ke Indonesia. Menghitung detik dan menguji kesabaran dalam menyikapi waktu kapan kiranya hujan tropis ganas yang dapat membuat Jakarta banjir itu dapat berhenti.


Bersama hujan pula kurasakan bahagia, saat kembali menikmatinya dengan canda tawa bersama dengan keluarga. Tak ada yang lebih membahagiakan selain menikmati hujan bersama dengan orang-orang terkasih. Hujan jua lah yang mampu mengeluarkan sisi-sisi melankolisku sehingga mampu mengubah rasa menjadi penuh makna . Benarlah kiranya, bila pada hujan, rahmat dan kasih sayang Allah sedemikan besar tak terhingga.

.


Beloved Ones

Di buku hari-hariku kalian hadir
Menggoreskan cerita yang berbeda di setiap lembarnya
Namun tetap memberikan kesan yang sama
Kusebut itu bahagia

Ada bianglala tercipta saat membaca jejak
Yang kalian tinggalkan di setiap langkah
Ada suka ada duka menjelma
Kusebut itu cinta

Aku tak tahu apa yang terjadi
Bila kutapaki waktu ini sendiri
Pastilah tersisa lara
Yang susah kucari obatnya

Entah itu di dunia atau di kesudahannya
Bersama kalian ingin kubangun surga
Kusemat cinta berbalut doa di kedalaman samudera hati orang - orang terkasih.......