Sunday, November 01, 2009

Three Cups of Tea

Buku ke-2 yang kubaca adalah Three Cups of Tea, buah karya Greg Mortenson &David Oliver Rein, penerbit Hikmah, setebal 629 halaman. Buku yang sudah memasuki cetakan ke-3 tahun 2009 ini adalah buku terlaris versi New York Times. Penyematan gelar buku terlaris bukanlah hal yang berlebihan menurutku, karena buku yang berisi kisah kemanusiaan yang menjembatani barat dan timur ini memang luar biasa. Buku ini juga merupakan kisah nyata yang diambil dari penulisnya sendiri, Greg Mortenson.

Seorang Amerika mantan pendaki gunung yang gagal memenuhi ambisinya menaklukkan K2,puncak tertinggi no.2 di pegunungan Karakoram Pakistan. Alih-alih mendulang kegagalan yang telak itu, Mortenson sukses ‘mendaki’ gunung lain yang belum pernah terbersit di benaknya. Gunung nurani. Saat tersesat dan menemukan sebuah dusun bernama Korphe di tebing Karakoram, Mortenson melihat fenomena yang mengguggah rasa kemanusiaannya. Anak-anak Korphe dengan telanjang kaki belajar di tengah lapangan salju tanpa guru ! Sontak, sebuah tekad terpatri di dadanya, bahwa dia akan membangun sebuah sekolah di dusun terisolir tersebut.

Kerja kemanusiaan itu bukanlah kerja ringan seringan ucapan janjinya pada kepala dusun Korphe, yang kemudian kelak dianggapnya sebagai keluarga kedua dan Korphe sebagai rumah kedua. Setelah memakan waktu yang tidak singkat, memberikan pengorbanan materi dan immateri yang tidak sedikit, sekolah yang menjadi perintis berdirinya sekolah-sekolah lain di daerah-daerah terisolir itu berdiri.

Sejak saat itu kehidupan Mortenson berubah. Dia dengan rela mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melakukan kerja kemanusiaan di daerah Pakistan di tengah pertikaian kelompok –yang notabene muslim-, terlepas dari perbedaan keimanan dan latar belakang budaya yang dimilikinya. Keterbelakangan pendidikan disinyalir menjadi salah satu penyebab munculnya terorisme. Hal ini lah yang selalu didengungkan Mortenson pada elit-elit di negerinya, agar melawan terorisme dengan pendidikan bukan dengan kekerasan. Tapi tentu hal ini akan dianggap angin lalu mengingat Amerika sendiri bukanlah negeri para Santo.

Lalu kemanakah orang Islam berada ? Di saat orang ‘kafir’ mengejawantahkan nilai-nilai kemanusiaan dengan demikian indah, pemerintaI Islam di negeri itu justeru malah sibuk mengeluarkan dana tak terhingga untuk membiyai peperangan tak berujung antar orang Islam sendiri. Ironi.
Buku ini selayaknya dibaca oleh-orang yang masih mempunyai nurani dan yakin bahwa pendidikan adalah pintu gerbang untuk lari dari kebodohan.

No comments:

Kusemat cinta berbalut doa di kedalaman samudera hati orang - orang terkasih.......