Friday, August 28, 2009

Bulan Sabit di Matamu

Sore ini,

sama seperti hari-hari yang lain sejak 7 tahun yang lalu,

aku memandang lekat bulan sabit itu di matamu.

Aku baca satu-satu kerlipnya.

Kulihat disana tetap ada purnama cinta yang senantiasa menyinari jiwa.

Terimakasihku untuk keindahan bulan sabit yang sudah kau kirimkan di hari-hariku

dulu, sekarang dan selamanya.


Teriring cinta untuk pemilik bulan sabit itu...

Matahariku yang Ke-3 (2)

Tepat pada tanggal 6 Maret 2009 pukul 09.00 WIB, matahariku yang ke-3 lahir. Alhamdulillah dengan berat badan 3300 gram dan tinggi badan 50 cm, buah hati yang berjenis kelamin laki-laki itu (finally) lahir dalam keadaan normal dan sehat di RSU dr. Sardjito, Jogjakarta. Tangisan pertamanya kudengar di meja operasi pagi itu. Bahagia. Sebuah perasaan yang sama dengan beberapa tahun lalu menyelimutiku saat matahariku yang pertama dan kedua lahir. Menurut kebiasaan medis, operasi ini seharusnya menjadi operasi caesar terakhir yang harus aku jalani, setelah dua matahariku sebelumnya lahir melalui jalan yang sama. Tetapi aku berkehandak lain, kuminta kepada dr. Detty, dokter kandungan yang membantu proses ini, untuk tetap mempertahankan kondisi rahimku selama memang tidak ada masalah disana. Thanks to mbak Detty yang sudah mau menerima pasien ngeyel sepertiku. Keinginan untuk memiliki buah hati kembali kelak, belum pupus. Berbeda dengan dua operasi sebelumnya. Kali ini nyeri yang kurasakan lebih hebat dan lebih lama, hingga sampai satu bulan. Semakin banyak frekuensi caesar ternyata membuat nyeri pasca operasi itu lebih lama. But, aku tidak kapok. Aku rasa disitulah indahnya perjuangan seorang ibu. Suami dan keluarga besar mendukungku dengan baik dalam proses ini. Alhamdulillah inilah nikmat yang besar itu.




Kami beri nama matahari yang ke-3 itu Abdurrohman Syauqi Al-Mumtaz. Kembali nama mumtaz kami sematkan padanya, dengan harapan kelak dia akan menjadi seorang hamba dan kekasih Allah yang excellent. Inilah dia penjagaku selama di Sydney yang kubawa kesana-kemari dalam kesendirian kami. Romantis sekali kisah kita selama disana cinta. Engkaulah tempat ummi bercerita dan berkeluh kesah. Kita harus kuat. Kata-kata itulah yang selalu kutanamkan padanya selama disana. Bertambah satu lagi album hidup yang harus kami isi dengan pengharapan dan cinta.


Alhamdulillah, di usianya yang sudah hampir 6 bulan ini, tak ada masalah yang berarti. Dia terlihat sehat, meskipun berat badannya malampaui batas, kurang lebih 10 kg di usia ini. Berat yang tidak umum di kalangan anak seusianya. Untuk pertama kalinya kami diamanahi anak berjenis kelamin laki-laki. Selama ini diiaku atau tidak, sangat kami rindukan jauh di lubuk hati kami akan hadirnya. Sebagaimana yang kudengar dari orang-orang di sekitar, anak laki-laki cenderung lebih sukar diatur daripada anak perempuan apabila usianya sudah beranjak besar. Tetapi hal tersebut tidak akan menyurutkan harap kami untuk berdoa agar kelak dia menjadi anak sholeh dan qurota’ayun kami yang sebenarnya. Langkahnya ke depan masih lah sangat panjang, bila Allah menghendaki kami terus membersamainya hingga dewasa. Kami hanya mampu membimbing dan menghujaninya dengan ribuan doa setiap saat, agar kelak akhir hidupnya hanya menyisakan kebanggaan hakiki untuk kami bawa menghadap Nya . Semoga.

Matahariku yang Ke-3


Syauqi Hari ke-0


Syauqi Bulan ke-1


Syauqi Bulan ke -2


Syauqi Bulan ke-3



Syauqi Bulan ke-4


Syauqi Bulan ke-5

Jerat itu Bernama Selingkuh


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, selingkuh didefinisikan sebagai perbuatan suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong. Dewasa ini, istilah tersebut secara umum diasosiasikan kepada bentuk pengkhianatan terhadap komitmen kesetiaan yang dilakukan oleh salah satu pasangan, baik pasangan yang sah dalam ikatan pernikahan, atau belum resmi diikat oleh hukum pernikahan. Terlalu banyak cerita perselingkuhan itu di sekitar kita. Para pelakunya pun bervariasi mulai dari profesi artis sampai pembantu rumah tangga.Bahkan beberapa acara reality show di televisi mengangkat tema tersebut untuk dijadikan mesin pembuat uang para pemilik rumah produksi. Pada umumnya , dari media-media yang sering kita baca dan lihat, akhir dari perselingkuhan ini adalah derita, baik dialami oleh salah satu maupun kedua belah pihak. Mulai dari penganiayaan yang dilakukanpihak yang dirugikan terhadap pelaku hingga terjadinya pembunuhan. Bila hal tersebut dilakukan dalam sebuah rumah tangga, perceraian dirasakan sebagai jalan terbaik dari persoalan tersebut. Rasanya terlalu murah harga mitsaqon gholidzo (perjanjian yang kokoh ) yang susah payah dibangun sejak awal dengan segala pahit manisnya itu untuk dibayar dengan kegagalan mempertahankannya.Ironis.




Beberapa waktu lalu, beberapa cerita selingkuh kudengar yang notabene pelakunya adalah orang-orang yang kukenal. Ada keterkejutan luar biasa yang kurasakan saat mengetahui hal tersebut. Bukankah selama ini dalam pandangan pribadi ku mereka-mereka adalah pribadi-pribadi yang luar biasa. Yang secara materi bisa dibilang terpenuhi tanpa kurang suatu apa. Yang secara immateri , sepertinya keluarga bentukan mereka adalah keluarga harmonis yang dirindukan oleh banyak orang, atau dengan kata lain mereka mempunyai kehidupan yang perfect ! yang bisa membuat orang lain iri. Apa yang menyebabkan terjadi pengkhianatan cinta itu ??


Aku berusaha merenung, berkaca pada kehidupan pernikahanku yang baru terlalui selama 7 tahun lebih sedikit. Ada kengerian yang luar biasa saat aku membayangkan bila hal tersebut mengenai rumah tangga ini. Naudzubillahimindzaalik. Bila kengerian itu datang, aku akan cium dan peluk suami ku tanpa mampu berkata-kata sembari berdoa di dalam hati meminta pada Yang Maha untuk selalu mengekalkan cinta ini dalam rangka semata menggapai keridhoan Nya. Jalan ini sudah kami pilih berdua dengan sadar , dan di jalan ini pula kami telah membuat janji kebersamaan bahwa awal dan akhir rumah tangga ini adalah Allah semata. Aku yakin, bahwa ke depan tantangan hidup semakin berat, dan untuk dapat menghadapinya dengan sukses tentu lah dengan cara merapatkan barisan di dalam keluarga, bukan malah mencari barisan lain yang justeru akan mengocar-kacirkan barisan sebelumnya.


Aku sempat berdiskusi dengan suami ku, belahan jiwaku, dimana seluruh rasa aku tumpahkan padanya, mengenai persoalan ini. Aku bertanya padanya, apakah perceraian itu adalah solusi bila salah satu ada yang berkhianat dalam rumah tangga. Beliau menjawab justeru mati dalam arti sebenarnya adalah solusi untuk itu. Aku sedikit tersentak, ya..agama ini sudah menjelaskan secara terperinci hukum untuk suami atau isteri yang berkhianat. Apabila dia melakukan zina sedangkan dia masih terikat dalam perkawinan, maka hukum rajam sampai matilah yang setimpal baginya. Sedangkan bila dia melakun zina tersebut tidak dalam ikatan pernikahan, hukum cambuk sebanyak 100 kali atau diasingkan selama beberapa waktu. Subhanllah, betapa indah agama ini menjaga komitmen pernikahan itu, hingga nyawalah yang menjadi bayarannya saat terjadi pengkhianatan. Tapi sekali lagi sayang , di negeri kita hukum itu tidak berlaku sehingga kejahatan seksual itu semakin marak tanpa kendali.


Mengapa kita tidak terpuaskan dengan pilihan hidup kita ?? Bukankah suami atau isteri yang kita pilih saat ini beserta kelebihan dan kekurangannya adalah pilihan sadar kita ?Bila sepanjang waktu kebersamaan itu satu persatu daun-daun cinta berguguran dan warnanya berubah kusam hanya karena kekurangan-kekurangan yang ada padanya, lalu apa yang akan kita sisakan pada akhirnya ? Kebosanan yang menggunung ? Sehingga mampu menggiring opini otak kita pada pembenaran bahwa cinta ini memang tidak bisa dipertahankan, untuk kemudian mencari hati dan tubuh lain yang seolah-olah mampu menjawab persoalan tersebut. Padahal, di saat yang bersamaan kita tengah menebar kuman pembusuk pada jiwa-jiwa. Jiwa pasangan kita, jiwa kita, dan jiwa anak-anak yang dilahirkan karena ‘cinta’ yang lalu. Ah..malang nian mereka seandainya itu terjadi. Pembusukan raga hanya terjadi saat raga itu mati, tapi pembusukan jiwa berlangsung selama nyawa masih melekat pada raga. Hal terakhir inilah yang berbuntut pada derita berkepanjangan. Keindahan-keindahan terlarang yang sesaat dirasakan adalah candu yang mematikan. Tidak akan ada bahagia pada akhirnya, karena kita telah menorehkan borok pada hati-hati orang-orang yang kita cinta. Borok itu akan lama sembuh, dan kalaupun sembuh bekas parutnya tidak akan pernah hilang, terbawa hingga mati. Permukaannya tidak akan sempurna kembali. Lalu merugilah kita.


Barangkali banyak latar belakang yang mendasari timbulnya perselingkuhan, tapi apapun alasan itu perselingkuhan tidak akan pernah membawa kebaikan untuk semua pihak. Salah satu faktor yang membuat hal tersebut dapat terjadi adalah kurangnya komunikasi antara pasangan suami isteri. Perbedaan-perbedaan yang berujung pada ketidakpuasan salah satu pihak akan menjadi dasar dicarinya PIL /WIL (Pria/Wanita Idaman Lain.red). Padahal sejatinya perbedaan-perbedaan tersebut dapat dicari titik temunya melalui komunikasi yang baik. Apa-apa yang kita suka dan tidak suka dapat kita utarakan pada pasangan, demikian juga sebaliknya. Cinta itu ibarat tanaman yang perlu dipupuk dan dipelihara agar tetap segar sepanjang masa. Komunikasi itu adalah salah satu pupuk yang akan membuatnya terus tumbuh subur. Sungguh Allah sendiri yang telah mengisyaratkan bahwa bisa jadi apa-apa yang tidak kita sukai justeru membawa banyak kebaikan bagi kita, dan apa-apa yang kita sukai bisa jadi justeru membawa kita pada kehancuran. Sudut pandang yang hanya dapat dilihat dengan mata hati dan keimanan.


Ada 3 hal kiranya yang hilang pada saat terjadi perselingkuhan itu. Pertama adalah kontrol diri, dimana hawa nafsu lebih cenderung banyak berbicara daripada keimanan. Di sini, agama yang menjadi pagar kemuliaan kita mungkin hanya terbuat dari pagar bambu yang gampang sekali roboh dengan sekali tendang. Mungkin pada saat itu kita tengah khilaf, fluktuasi keimanan kita sampai pada titik kulminasi terendah, sehingga dengan mudahnya bisikan setan kita ikuti. Well, itu artinya dibutuhkan kekuatan yang maha super yang dapat menjaga kita terus selama 24 jam, dan itu hanya didapat gratis dengan cara memintanya Dari Atas. Segala aktifitas yang dapat mendekatkan pada perbuatan yang tidak terpuji itu haruslah dihindari. Berawal dari dekat, curhat, lalu akhirnya menjalin keakraban yang jauh dari sehat. Perasaan-perasaan suka yang dipupuk terus dengan kebersamaan lalu menjelma menjadi cinta yang menyesatkan. Untuk menghindari semua itu butuh kontrol diri yang kuat yang mengedepankan akal bukan sekedar emosi.


Kedua adalah kontrol lingkungan. Berteman dengan orang-orang yang menganggap selingkuh bukan dosa akan membuat kita semakin terdorong untuk melakukannya. diperparah lagi dengan media yang berusaha menggiring opini publik untuk menganggap ‘biasa’ perselingkuhan, bahkan menggembar gemborkan semboyan : selingkuh itu indah. Tayangan-tayangan televisi banyak sekali mengambil tema tersebut, yang sadar atau tidak mengajak publik untuk terbiasa. Mengamini bukan menyalahkan . Mendiamkan bukan mengutuk.


Terakhir adalah kontrol sistem. Barangkali hal ini yang sampai saat ini masih belum dapat kita rasakan. Hukum syariat belum berlaku di negeri ini, sehingga tidak ada ketakutan pada ekses dari pelanggarannya. Selingkuh yang terungkap di publik saat ini barangkali ibarat fenomena gunung es dimana yang terlihat hanya puncaknya, tetapi dasar yang besar tidak tampak. Sehingga ditakutkan, pada akhirnya berujung pada kehancuran pribadi dan masyarakat pada umumnya.


Rumah tangga kita adalah biduk kecil yang harus kita bawa hingga ke tepian surga. Jangan biarkan ia karam hanya karena ego yang kita pelihara dan emosi yang mendominasi tanpa mengedepankan logika. Percayalah bahwa iblis la’natulllah akan bersorak sorai dengan kegembiraan yang meluap-luap bila mampu memorak porandakan biduk itu dengan bisikan cinta semu. Naudzubillahimindzalik. Wallahu’alam bis showab.


Buat mas: Mari kita jaga cinta agung itu sayang..


Saturday, August 22, 2009

Faiz dan Menulis dengan Hati


Anak ajaib.. ! Itulah kiranya yang bisa kukatakan pada Faiz, seorang penulis cilik yang sudah mencuri hati banyak orang, termasuk diriku. Yah..aku nge-fan sama Faiz. Dia menulis dengan hati, membaca dunia melalui sudut pandang tak terduga.Sudut pandang yang jarang dipakai oleh kebanyakan anak-anak dan dewasa pada umumnya. Faiz menulis dengan melepaskan pakaian egonya. Faiz adalah Sebuah Maha Karya dari sang Pencipta. Karya-karyanya sudah banyak menginspirasi banyak kepala .Membaca puisinya dengan segenap jiwa akan membuatku melelehkan air mata. Aku yakin bahwa bila kita membaca tulisan seseorang sampai menangis, itu berarti si penulis memang menulisnya dengan hati. Sepertinya aneh, tapi begitulah yang kudengar.





Pernah suatu hari seorang temanku berkata bahwa dia menangis saat membaca salah satu tulisanku di blog, dia merasa apakah ini karena memang dia terlalu cengeng ? Ajaibnya, pada saat hal tersebut dikonfirmasikan kepadaku, aku mengatakan padanya, bahwa pada saat aku menulisnya, saat itu hatiku dan mataku pun basah. Begitupun saat dia membaca buku sirah Nabi yang dibahasakan ulang oleh Eka Wardhana, dia menangis, dan memang betul bahwa saat dia bertemu dengan penulisnya, sang penulis mengatakan bahwa saat menulis sirah itupun dia menangis. Subhanallah, rasanya aku baru paham dengan apa yang disebut menulis dengan hati, dimana tulisan itu akan menghasilkan semacam aliran listrik kepada pembacanya. Memberikan sesuatu yang baru, yang hanya bisa dirasakan oleh hati itu sendiri. Tapi tentunya itu hanya bisa terjadi bila orang yang membacapun menyertakan hatinya.

Kembali kepada Faiz, anak ini telah melelehkan air mataku beberapa kali, seperti saat aku membaca puisinya Kisah dari Negeri yang Menggigil. Indah nian dia membahasakan kepedihan, kerinduan, dan harapan pada negeri ini dengan meminjam tingkah polah adiknya. Di blog ini aku ingin meminjam karyanya, agar jadi inspirasi untuk semua. Kupinjam pula bait-bait puisinya yang berjudul : Dari Seorang Anak, Bagi Ayah Ibu yang Akan Bercerai, untuk kutulis di note facebook ku. Dan hasil nya , tak berapa lama kemudian ada beberapa komen yang menyatakan apreseasi terhadap puisi tersebut. Indah bukan? Karyanya mampu menohok senyap kalbu yang merindu. Menyadarkan suatu entitas pada kesejatiannya, agar mengembalikan sebuah pernikahan pada esensi nya yang paling dalam. Tak banyak kata yang bisa diucap untuk anak berbakat ini, speechless. Berkaryalah terus Faiz, suarakan kebenaran lewat untaian katamu, lewat hatimu. Biarlah peluru-peluru cinta itu menembus jantung kesombongan semesta. Keep on writing !!..

Disini, ijinkan aku untuk mengutip puisi tersebut :


Dari Seorang Anak, Bagi Ayah Ibu yang Akan Bercerai

Ayah, Ibu
tolong jangan cerai
sebab bercerai selalu membuat kita runtuh
tak bisakah semua dibicarakan baik-baik
dengan kepala sedingin batu es
dan hati yang embun ?


Tolong,
jangan bertengkar di hadapan kami
apalagi saling melempar perabotan
jangan menebar caci dan fitnah
apalagi sampai ke koran, majalah dan televisi
dan jangan jadikan rumah kita
bagai zona perang


Mengapa kalian saling menyakiti
dan mengabaikan kami ?


Kami bukan lemari
yang kalian pajang di rumah
bisa digotong ke sana kemari
kami punya kebeningan hati
pendapat yang bisa dipertimbangkan
kamilah penggenggam erat semua cinta
yang kalian lempar sampai begitu jauh


Jangan bercerai,
kecuali hanya bila salah satu pergi menghadap Nya
jangan bercerai,
kecuali hanya bila ada yang mengingkari Ilahi
jangan bercerai, ayah ibu
sebab itu berarti meruntuhkan dunia indah
yang kita bangun sejak dulu
dari senyuman dan kenangan
yang kita kumpulkan setiap waktu


Ayah ibu,
bila kalian tetap bercerai
mungkin kami tak lagi kanak-kanak
diri kami akan menyusut, mengerut
menjelma gumpalan duka tanpa mata,
lalu mungkin akan kami asah
duri-duri hati menjadi taring

Pada suatu masa

kalian pun akan tergugu

menemukan kami yang berhati bolong
di sepanjang lorong
menuju rumah entah siapa

(April 2006)

By. Abdurahman Faiz (11 th) , taken from : Nadya Kisah dari Negeri yang Menggigil




Friday, August 21, 2009

Refleksi Akhir Sya'ban 1430 H


Tamu agung itu kembali datang, sudahkah diri ini siap untuk menyambutnya dengan upacara pencucian jiwa di tengah lumpur kesalahan dan dosa?? Sudahkah ada gembira menanti perjumpaan yang sejatinya dilumuri dengan cinta? Bukankah tamu agung itu yang akan mengantar pada nikmatnya bercinta dengan Penguasa Semesta? Bulan-bulan letih akan berlalu, saatnya rehat sekejap bersama tamu agung itu. Mengembalikan asa menuju cahaya. Melahirkan jiwa menuju fitrah nya.



Sejenak merenung, berulang kali di masa lalu tamu agung itu hadir, tapi berulang kali pula diri menuaikan kecewa di setiap perpisahannya dan menyisakan sepotong sesal di kesudahannya. Betapa sia-sia rasanya saat detik2 kemesraan dilalui tanpa makna . Laparku, hausku, kadang tak bernilai apapun di hadapan tamu agung itu , tapi justeru membangkitkan angkara, karena baju ikhlasku sedikit demi sedikit tanggal terkikis ngengat dosa yang dengan sengaja atau tidak kupelihara.


Malunya hati bila banyak pinta padanya, sementara jala maksiat masih rajin ditebar di setiap sudut siang dan malamnya. Aku menyadari, kemarin dan kemarin nya lagi, tamu agung itu telah terluka, sebab s terus menerus kugores dengan duri-duri pengkhianatan pada ikrar sebelum dia datang. Aku sudah tidak ingat kapan menyambutnya dengan pakaian iman terbaikku. Setahun, dua tahun, tiga tahun yang lalu, atau mungkin memang tidak pernah ada penyambutan terbaik itu? Sepertinya semua seadanya...tanpa menganggap kedatangannya istimewa, apatah lagi menemani hari-harinya dengan pelayanan yang selalu prima. Satu hari, dua hari, atau berapa harikah hidangan amal yang kuberikan dapat diterima penuh kesan, di antara 30 hari miliknya? Atau mungkin tidak pernah ada hari-hari berkesan yang kulalui bersamanya.Tergantikan dengan rutinitas hari yang dilalui dengan seadanya tanpa lupa untuk dibumbui dengan hawa nafsu, sehingga menjadikan hidangan itu pahit terasa.


Duhai.. betapa nistanya diri bila ia kembali datang hanya untuk disia-sia, bila ia datang hanya untuk dianggap sebelah mata, bila ia datang disambut seadanya. Bukankah memuliakan tamu itu adalah suatu kebaikan yang besar ? Sungguh aku ingin tenggelam dalam keberkahan yang dibawanya, ingin membersihkan kotoran jiwa dalam samudera ampunan yang tak terkira luasnya, ingin meraih surga yang dijanjikan padanya. Lihatlah, seribu bulan pun tak akan mampu mengalahkan kebaikan dan keelokannya.

Pada tamu agung itu akan kutumpahkan air mata penyesalan, takut, dan harap akan perjumpaan. Pada tamu agung itu akan kukeluh kesahkan semua beban rasa yang tak tertanggungkan. Biarlah ke-akuanku tumbang dalam ketidakberdayaan dan kefanaan. Siang miliknya adalah tempaan jiwa, dan romansa di atas sajadah itu tak sabar ingin ku ukir di saat-saat malamnya.


Dan kepada Ramadhan, Sang Tamu Agung itu

Bila ini saat terakhir kau berkenan untuk datang dalam hidupku

Beri aku ijin untuk mengemis kasih Tuhanku di setiap detik waktu milikmu

Beri aku kesempatan menyambutmu dengan pakaianan iman terbaik milikku

lalu larungkanlah aku di lautan Cinta Abadi itu


“dari jiwa yang merindu”


Friday, August 14, 2009

Awal Kembali

Alhamdulillah, Welcome to the real world !! Itulah yang kuucapkan dalam hati saat menginjakkan kaki kembali ke tanah air, the place where I belong. Rasanya tidak ada tempat terindah di bumi ini selain tempat dimana kita dikelilingi oleh orang2 yang mencintai dan dicintai kita. Penerbangan maskapai Singapura ini mengantarkan kami ke tujuan akhir, Jakarta, dimana aku dan suami menghabiskan waktu selama dua hari di sana untuk mengurus administrasi kepulangan di Depkominfo ,untuk kemudian melanjutkan perjalan ke Pekanbaru. Di Jakarta, kami sempatkan untuk mengunjungi Monumen Nasional dan untuk pertama kalinya kami berdua ke puncak nya. Ndeso ya mas.. Itu celetukan yang kulontarkan pada suamiku sambil tertawa. Menyadari bahwa kami belum pernah ke sana selama ini.





Ahh..kembali aku masih belum dapat berjumpa langsung dengan kedua buah hatiku yang tinggal di Sumatera Selatan bersama kedua orangtuaku. Alasan ku untuk langsung ke Pekanbaru adalah untuk mengurus kelengkapan syarat-syarat guna melanjutkan sekolah lagi nanti . Whatt ??!! Sekolah lagi ?? Kapan mengurus anak-anak ? Itulah pertanyaan yang selalu terlontar apabila aku mengungkapkan keinginanku untuk mengambil Program Spesialis setelah pulang dari Australia nanti. Tapi sepertinya Allah berkehendak untuk sesekali ‘menyentil’ ku dengan kegagalan yang dramatis pada akhirnya. Bagian ini akan kuceritakan pada episod yang lain.

Alhamdulillah pada waktu yang bersamaan dengan kepulangan itu, suami juga berkesempatan untuk melanjutkan studinya di almamaterku, UGM, setelah mendapatkan izin dan pembiayaan dari institusi tempat Beliau bekerja. Itu artinya kami sekeluarga akan menghabiskan waktu membersamai orang tua suami di Jogja, mm..what a life. Maka nikmat Allah mana lagi yang bisa kami dustakan.Selama dua minggu kami kembali berbulan madu karena hanya berdua tanpa anak – anak, kecuali anak ke-3 di dalam perut yang semakin membesar. Kembali pula kebosanan yang kurasakan. Kalo Cuma untuk sehari dua hari berbulan madu sih aku akan sangat menikmatinya, tapi bila terlalu lama jauh dari anak-anakku rasanya sudah tidak nikmat lagi. Mereka pun selalu bertanya-tanya ummi dan abi mana, kok belum datang, padahal katanya sudah pulang ke Indonesia.

Alhamdulillah semua urusan sebelum meninggalkan Pekanbaru sudah terselesaikan dengan baik. Kini tiba saat nya aku akan bertemu dengan kedua buah hatiku. Pesawat yang membawa kami berdua mendarat dengan selamat sampai di Palembang. Subhanallah..aku lihat malaikat-malaikat kecilku tertawa bahagia sambil menyebut ummi nya terus menerus, leleh sudah pertahananku, air mata sudah mengaburkaan pandanganku, kuciumi dan kupeluk mereka dengan seluruh jiwa. Yah inilah yang kunamakan bahagia itu. Maha Suci dan Maha Besar Allah yang masih mempertemukan aku dengan mereka. Lihatlah, putri ke-2 ku sudah lancar berbicara, walau kurang vitamin ‘R’ karena hurufnya dieja menjadi ‘L’. Mereka tertawa takjub melihat perutku yang sedemikian buncit, sambil meraba-raba dengan bahagia. Kusaksikan betapa mereka menyayangi calon adiknya nanti. Kulihat kilasan kaca-kaca di mata mama dan papa saat menyambutku. Begitu besar rasa terimakasih ini pada Beliau berdua, yang dengan segala pengorbanan mengasuh kedua cucunya selama satu tahun. Aku bisa merasakan bila kedekatan dengan cucu-cucunya itu kelak akan membawa duka karena perpisahan.

Setelah anak-anak kami jemput, perjalanan pun berlanjut menuju Jogjakarta. Kembali, setiap perpisahan akan menyisakan duka seperti yang kutulis di atas. Tak henti-hentinya putri ku yang pertama menangis saat dilepas kakek dan neneknya di bandara, Dengan memakai saputangan yang memang sudah disiapkannya sejak berangkat, berulang kali disekanya air mata yang terus menerus mengalir di pipi mungilnya. Pun hal itu terjadi pada papaku, yang sesenggukan saat ditinggalkan kedua cucunya. Ah.. indah nian pertautan dua generasi yang berbeda itu.




Sampailah kami di Jogja. Kami pun sibuk mengurusi semua hal. Aisyah, putri pertama ku meneruskan kelas 1 SD nya di sekolah eyang putrinya, yang kebetuluan adalah kepala sekolah di salah satu SD negri di sini. Nanti akan kuceritakan tingkah polahnya saat memasuki SD baru. Di usianya yang masih belia untuk masuk SD, banyak hal yang menjadi kendala berkaitan dengan kematangan emosi nya. Sementara sang adik akan menghabiskan waktnya dulu membersamaiku, karena usia sekolahnya belum sampai. Ah, cinta, tak habis2 nya cerita tentang kalian akan ummi rangkai. Selama 2 tahun ke depan Jogja adalah tanah air kami. Tapi bagaimanapun juga, sepertinya aku sudah jatuh cinta dengan Pekanbaru dan isinya, dengan panas dan asapnya, dengan orang-oang nya. Entahlah, apakah nanti akhir hayatpun akan berakhir di sana. Pada Allah jawabannya.




Thursday, August 13, 2009

Hari-Hari Akhir di Sydney

Judul di atas harusnya tampil jauh di bawah, karena memang saat ini aku tidak lagi ada di Sydney. Aneh nya, pas di Sydney nya sendiri aku malas untuk menuliskannya. Menunggu suami yang akan menjemput bulan Januari ( yang berarti 1 bulan kemudian ) adalah hal yang sangat menyesakkan dada, padahal perkuliahan sudah berakhir di penguhujung november. Itu berai aku harus membunuh kebosanan selama satu bulan itu bersama dengan usia kehamilan yang mendekati 7 bulan. Belum lagi menanggung rindu tak tertahankan pada kedua buah hatiku tercinta di tanah air. Dan tentu saja karena satu persatu teman-teman seperjuanganku sudah kembali ke tanah air dengan menggondol gelar yang sama M.Med.Ed alias Master of Medical Education . Kak Hema, Fika, Mbak Herlina , kapan ya kita bisa berjumpa lagi ? tiba-tiba aku jadi ingat syair lagu, persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi indah. Kami berempat memasuki jurusan yang sama, dan kami berempat mempunyai karakter yang berbeda-beda. Tapi justeru perbedaan itulah yang menjadikan kami dekat. Thanks pals...for everything u all have done to me, especially for that beautiful moments. Tapi kok pas kembali ke tanah air malah lost contact yaa ?? *aneh*




Sejak kepulanganku di bulan Juni saat liburan semester, ada harta karun tak ternilai yang dititipkan Allah di dalam rahim ku untuk ku jaga selama bulan-bulan berikutnya di negeri orang. Alhamdulillah, selama di sana Allah sayang dengan kami berdua, semua masalah dapat di atasi, dan morning sickness pun tidak terlalu parah kurasakan. Hanya satu kali vomit selama 7 bulan di sana. Tugas-tugas perkuliahan pun dapat kulaksanakan dengan baik, walaupun hasil nya perbatasan antara mengecewakan dan tidak alias pass.. Whatever..semuanya sudah berlalu. Guru-guruku yang baik, sudah banyak memberikan ilmu yang barangkali tidak kutemui di sini. Tata kota yang apik, transportasi yang memadai, lingkungan yang kondusif, iklim yang bersahabat (secara umum), karena saat winter aku merasa sangaaat rindu pada Pekanbaru dengan sinar surya nya. Semuanya tersimpan indah dalam memoriku. Sydney adalah kota yang indah, aku akui itu. Tapi keindahannya seperti lenyap saat aku menyadari bahwa aku menikmatinya dalam kesendirian.


Detik-detik yang paling membahagiakan adalah saat aku menjemput suami, belahan jiwa, di Sydney Airport. Ah..saat pertama kali kupandang wajahnya, betapa aku merasa sudah berabad-abad tak berjumpa dengannya. Rindu membuncah pecah di peluknya. Suami hanya berkesempatan menikmati Sydney tidak sampai 1 minggu lamanya. Dan untuk waktu yang tidak panjang itu aku ajak Beliau untuk menikmati Sydney. Hasilnya adalah hari-1 adalah kunjungan ke icon nya Sydney yaitu Opera House dan Harbour Bridge nya. Hari ke-2 kami membidik Kiama, salah satu pantai yang terkenal dengan blow-hole nya , dan di sanalah kekaguman kami pada kebesaran Allah tertumpah, sebuah surga dunia yang barangkali tidak akan sering kita temui di belahan bumi lain. Hari berikutnya lagi kami melakukan coastal walk dari Bondi Beach sampai Bronte beach. Serta tak lupa mengunjungi suburb-suburb di sekitar Sydney. Subhanallah, di usia kehamilan yang tidak lagi muda aku masih sanggup melakukan aktifitas berjalan kaki tersebut tanpa ada kesulitan.Dari pedometer yang dipakai suami, rata-rata kami berjalan 5 km setiap hari ( Maka nikmat Allah yang mana lagi yang akan kami dustakan). Akan tetapi ternyata kekuatan berjalan itu tidak dapat mewakili hasil test kerja jantung, yang selanjutnya akan kuceritakan pada bagian lain .






Dan tibalah saat kepulangan ke tanah air. Sungguh, tak banyak bersit sedih saat harus berpisah dengan benua ini, meninggalkan winter, autumn, summer, spring, mapple dan jacaranda. Satu yang barangkali membuatku bersedih, karena harus berpisah dengan saudara-saudara seiman di sana. Kepulanganku pun dilepas oleh mbak Erni ( seorang ummahat teman pengajian yang masih terlihat muda di usianya yang sudah kepala 4 ), miss u so Mbak Erni ,thanks for your kindness..Ah.. indah nian ukhuwah yang terjalin di antara ikhwah di sana, tapi seiring itu juga letupan-letupan rindu tanah air terus menderu...bersama dengan lepas landasnya roda pesawat Singapore Airline. Sekali lagi, aku memilih maskapai ini, meski sempat pernah dibuatnya sport jantung saat dulu kembali ke Sydney setelah liburan berakhir , karena ada gangguan turbulensi.

Dan berakhir sudah pengalamanku di benua itu, setelah secara resmi melapor kepada pihak pemberi beasiswa, Depkominfo, bahwa study ku sudah selesai. Thanks to Depkominfo yang sudah memberikan kesempatan langka ini kepadaku. Thanks to Allah yang sudah membuat semuanya berjalan dengan baik tanpa ada halangan yang berarti, berkat doa-doa orang-orang tercintaku. Mama, papa, Mas Erwin, Aisyah, Hafshoh, Bapak, Ibu, semua tante-tante, dan semua yang mengirimkan doa untukku.




Blog-ku Sayang, Blog-ku malang

Ahh.. sudah sedemikian lamanyakah kutinggalkan rumah ini tak bertuan.Kesan 'spooky' tentunya bisa tergambar dari rumah yang tak berpenghuni, sama hal nya bila blog ini tak berpenghuni. Barangkali tulisan ini dapat menjadi momen untuk bangkitnya kembali semangat ke-blogger-an ku. Semoga.


Ada banyak sebenarnya moment-moment penting selama setahun yang terlewati, untuk sekedar dijadikan prasasti di blog ini. Namun entah kenapa tak sedikitpun hati tergerak untuk menggoreskan semua cerita-cerita itu ,mm...apakah ini tanda-tanda ke-futur-an kreatifitas yang akan berujung pada kematian rasa ?? Padahal menulis adalah ladang ungkapan jiwa yang dapat meringankan beban rasa. Semua fasilitas tersedia untuk melakukannya, orang-orang di sekitar pun selalu mendukung untuk itu,tapi dari sekian banyak faktor penunjang, semangat lah yang kiranya raib berganti malas yang berkelanjutan , dan pertanyaannya lalu dimanakah semangat itu tercecer dan berserak selama ini ? Pertanyaan yang bagus ditujukan kepada diriku yang aku sendiri tak tahu jawabannya. Setahun di negeri Kanguru, Kehamilan, Kelahiran, Perjumpaan dengan orang-orang terkasih, kebersamaan kembali, Peringatan Hari-hari penting, Kisah-kisah lucu, Kisah-kisah sedih, Kegagalan..bukankah semua itu akan dapat dikenang lewat kata yang diuntai ?


Stagnansi – Mandek – Steady state- yah...kata-kata itu layak kiranya disandangkan pada diriku saat ini. Sounds weird, eh ? Tapi itulah kenyataannya. Butuh segenap kekuatan yang bisa melentingkan daya pikirku,imajinasiku dan kemampuan tulisku ke alam nyata. Dan celakanya lagi pada saat yang bersamaan keinginanku untuk membaca pun hilang ?? Astaghfirullah..inilah bencana itu..., bukankah ayat pertama Alquran memerintahkan seluruh ummat untuk membaca, dan saat aktifitas itu berhenti, adalah sunnatullah bila kreatifitas pun tak beranjak dari tempatnya semula. Berapa banyak sudah waktu yang tersia untuk tidak meluangkan waktu melakukan dua aktifitas tersebut. Hey.. inilah mengapa aku merasa seakan otakku beku seperti berada dalam lemari pendingin yang bersuhu jauh di bawah nol derajat celcius, dan saat tulisan ini kutuangkan, sepertinya temperatur itu perlahan naik, itu artinya otakku mulai berkurang kadar kebekuannya, walaupun yah.. masih beku juga karena masih sedikit di bawah nol. Aku harus himpun semangat yang berserakan itu satu-satu, agar otakku bisa mencair untuk kemudian mengalirlah seluruh ide di dalam kepala yang kemudian dapat ku-transformasi-kan ke dalam susuan alfabet yang bisa dicerna maknanya. Adalah indah bila satu kepala dapat memberi pencerahan pada banyak kepala karena apa-apa yang dihasilkan dari aktifitas kepala itu.Aku ingin menjadi kepala yang seperti itu, dan itu bukan sekedar angan kosong ku saat ini, bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling baik untuk orang lain, bukan ??


Sekarang pertanyaannya, dari mana akan kumulai ?? Bila menulis adalah sebuah refleksi jiwa, untuk sementara biarlah aku akan membaca refleksi orang lain pada tulisannya. Langkah awal yang baik bukan..dan itu artinya aku harus blog-walking hehehe... satu lagi aktifitas yang hampir tidak pernah kulakukan lagi hampir setahun terakhir ini. Blog yang dulu paling sering kukunjungi adalah blog orang-orang yang bisa membuat aku tertawa bila membacanya. Hal-hal sederhana yang dibungkus dengan tulisan jenaka mampu membuatku tertawa terkekeh-kekeh sendiri, dan tulisan mereka bisa menjadi candu buatku.. pengen lagi dan lagii...Tapi sekali lagi itu masa lalu *sigh*. Aku juga sering berpikir tentang karakter tulisanku yang sepertinya memang tidak berkarakter atau kadang kurang sistematis, melompat kesana kemari, ingin menumpahkan sesuatu tapi kurang pas. Inilah yang masih kadang membingungkan diriku sendiri..Sebenernya mau menulis apa sih ?? Itu artinya aku memang harus banyak membaca dan menulis..terus dan terus.


Oke.. sepertinya sudah cukup refleksiku untuk kali ini, dan setelah tulisan pertama di tahun ini aku berharap ada lagi yang bisa kutulis. Semoga. Teteeeeupp Semangaatt !!!

Kusemat cinta berbalut doa di kedalaman samudera hati orang - orang terkasih.......