Monday, November 09, 2009

Negeri Lima Menara

Satu lagi buku pembakar semangat telah aku baca. Kali ini adalah buah pena A. Fuad dengan judul Negeri Lima Menara, penerbit Gramedia . Buku setebal 416 halaman dan memulai cetakan pertamanya tahun 2009 ini adalah buku fiksi yang diangkat dari kisah hidup penulis yang berhasil mencapai mimpinya bersama dengan beberapa orang temannya untuk menginjak Trafalgar Square, London. Suatu impian yang nyaris mustahil untuk anak-anak daerah yang belajar di pesantren pada masa itu.

Perjuangan Alif Fikri, tokoh sentral buku ini, menapaki takdir –yang awalnya diterima dengan setengah hati - untuk belajar di sebuah pesantren di Jawa, tersuguh apik dalam buku ini. Percikan-percikan mimpi yang sering dibagi bersama lima orang teman-temannya di bawah menara masjid pesantren itu , yang kelak di kemudian hari menjelma menjadi sebuah kenyataan hidup yang sungguh manis untuk dikenang, terus menerus mewarnai dan melecut hari-hari mereka. Kehidupan di pesantren beserta suka dukanya adalah episode yang sebagian besar tergambar di dalam buku ini. Bermula dari mantra ajaib ‘Man jadda wajada ‘ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses ) yang sering diperdengarkan di pesantren tersebut hingga mau tak mau meresap senyap di setiap aliran darah para penghuninya, Alif dan teman-temannya mencoba melarung mimpi untuk menginjak bumi di benua yang berbeda-beda. Pada akhirnya mimpi itu pun tunai dengan suksenya mereka menapaki karir dan hidup masing-masing.

Gaya bahasa jurnalistik yang mengedepankan deskripsi membuat buku ini lebih hidup untuk dirasakan. Ada guyonan-guyonan jenaka yang bisa membuatku tertawa. Walaupun saat sudah berada di tengah, mulai ada sedikit kebosanan dengan isi cerita , hal ini tidak mengurungkanku untuk menuntaskan buku ini. Membaca buku ini, terjawab sudah apriori yang sering terjadi di masyarakat (termasuk diriku) tentang gambaran pesantren yang identik dengan kaum puritan, kampungan dan ketidak-higienis-an. Apa yang digambarkan penulis tentang pesantren di buku ini, menambah rasa hormatku dengan institusi bernama pesantren itu. Karena ternyata pesantren itu tidak sekolot yang aku kira, justeru banyak kelebihan-kelebihan yang bisa dibawa untuk bersaing dengan kehidupan global seperti sekarang ini.

Buku ini mengingatkanku pada buku Laskar Pelangi milik Andrea Hirata yang menginspirasi. Bagaimana ruh semangat, perjuangan ,kesungguhan, dan doa itu mampu membelokkan mimpi menjadi kenyataan. Hal ini lah yang membuatku tak pernah berhenti untuk bermimpi. Bahagia. Itulah yang kurasakan saat mimpi itu tiba-tiba nyata setelah tergantung lama menemani hari-hariku. Pada bagian akhir buku ini aku bisa merasakan getar semangat dan harap penulis merambati hatiku untuk kemudian menjelma jadi titik air mata saat membaca kata-kata indah : ‘Kun fayakun, maka semula awan impian, kini hidup yang nyata. Jadi jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.’

Buku ini layak untuk dibaca ! Aku yakin beberapa waktu ke depan buku ini akan menjadi best seller.


4 comments:

Anonymous said...

ini trilogi kan, say? dah bc buku ke2 dan ke3nya? aku jg katanya lo...:)

aku jg pgn mbaca bgt buku ini. nyari ebooknya blm ada, pdhl mo beli bukunya blm kesampean :(

buku ini dah jd fenomena tuh say. dah jd perbincangan di mana". blm best seller ya?

hope aku bs segera membaca buku ini. makasi referensinya ya.

dr. Yuni Eka Anggraini said...

hihihi..jangan nyari ebook atuh neng..kan kasian A. Fuadi gak dapet royalti :P Buku ini belum bisa dikatakan best seller sebelum memasuki cetakan ke-2 dan seterusnya, jadi nanti kalo best seller mesti dikasih cap di sampulnya. Lah, cetakan pertama aja baru 2009 jeh..

Sepertinya trilogi, cuma yg ke-2 dan ke-3 nya belum nongol heheh...

Anonymous said...

Wah, kek-nya mesti beli nih, Jeng..! klo ke toko buku sebenernya dah bolak balik megang2 tuh buku.."beli engga, beli engga" tp akhirnya harus bertekuk lutut dulu ama Perahu Kertas..Huuufffsss...So many books, so little time !!! (pan harus berbagi dgn tugas2 informal yg rebutan mesti "dipegang" dan ...pemenuhan kebutuhan sosial di Facebook :P wakakakak)

dr. Yuni Eka Anggraini said...

heheh..untung gak lecek tuh buku di bolak balik :P . Mm..malah perahu kertas diriku gak tau.. nanti tak cari tau. Btw, buat resensi dong mbak.. seru gitu loh..!

Kusemat cinta berbalut doa di kedalaman samudera hati orang - orang terkasih.......